Syahid Muthahhari dalam Pandangan Ayatullah Khamenei

25 06 2008

Syahid Murtadha Muthahhari adalah cendekiawan Islam yang cemerlang, yang pemikiran-pemikirannya terus relevan dengan masa kini. Ia dilahirkan pada tanggal 2 Februari 1919 di Khurasan, Iran. Ayahnya, Muhammad Husain Muthahhari adalah seorang ulama yang terhormat. Awalnya Syahid Muthahhari menuntut ilmu agama di hauzah ilmiah di kota Qom dan menjadi murid dari Ayatullah Burujerdi dan Ayatullah Al-Imam Khomeini. Sejak masih pelajar di Qom, ia sudah menunjukkan minatnya pada filsafat dan ilmu pengetahuan modern. Pada usia relatif muda, Muthahhari sudah mengajar logika, filsafat, dan fiqih di Fakultas Teologi Universitas Teheran. Kepada mahasiswanya, Mutahari mengajarkan pemahaman Islam yang benar dan konsekuensi ketauhidan, yaitu penentangan terhadap thagut atau pemerintah yang zalim. Ia aktif dalam politik dan berjuang bersama Imam Khomeini dalam menentang rezim Shah Pahlevi yang despotik. Pada tahun 1963, Muthahhari dipenjara bersama Imam Khomeini. Setelah Imam Khomeini dibuang ke Turki, ia mengambil alih kepemimpinan gerakan revolusi Islam dan menggerakkan para ulama mujahid untuk meneruskan semanagat perjuangan sang Imam. Pada bulan Februari tahun 1979, perjuangan inipun mencapai hasilnya dengan kemenangan revolusi Islam Iran. Namun beberapa bulan kemudian, tanggal 2 Mei 1979, beliau ditembak oleh kelompok teroris dan gugur syahid.

Dalam rangka mengenang hari gugur syahidnya Ayatullah Muthahhari, kami mengajak Anda untuk mengenal lebih lanjut tentang beliau melalui khutbah-khutbah yang pernah disampaikan oleh Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam, Ayatullah Khamenei sebagai berikut:

Ayatullah Khamenei dalam salah satu khutbah beliau menyatakan bahwa Syahid Muthahhari adalah salah satu tiang pendiri Republik Islam Iran, salah satu pembawa bendera pandangan Islam modern, kunci pembuka gudang harta karun budaya Islam, dan murid yang dicintai Imam Khomeini. Syahid Muthahhari selalu mengingatkan kita pada kehidupan revolusi, alam berpikir, dan filsafat ketauhidan.

Syahid Muthahhari adalah lulusan yang cemerlang dari hauzah ilmiah, yang umurnya dihabiskan untuk mencari dan menyebarkan pengetahuan agama serta menghidupkan kalimatullah. Ia memahami masyarakatnya dan mengenal kondisi zamannya dengan luas dan mendalam. Ia bisa memahami keragu-raguan dan kebingungan yang dialami masyarakat dan dengan usaha keras yang tiada henti, ia memberikan jawaban-jawaban ilmiah terhadap berbagai keraguan dan kebingungan itu. Setelah 24 tahun berlalu sejak gugurnya Muthahhari, kaum generasi muda masa kini masih tetap bisa mencari jawaban atas kegelisahan-kegelisahan dan pertanyaan-pertanyaan ruhani mereka dari karya-karya yang ditinggalkan Syahid Muthahhari. Karya-karyanya telah dialihbahasakan ke berbagai bahasa di dunia dan telah memberi inspirasi serta pencerahan spiritual kepada kaum muda dari berbagai bangsa dan ras.

Menurut Ayatullah Khamenei, salah satu poin penting dari karya-karya dan pemikiran Syahid Muthahhari adalah bahwa ia mengenali topik dan masalah yang dibutuhkan oleh masyarakat, lalu dengan teliti dan mendalam, ia menganalisis masalah-masalah tersebut serta mencari jawabannya. Pidato-pidato Syahid Muthahhari penuh dengan puluhan topik yang semuanya merupakan bagian dari topik-topik pemikiran yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat dan mengandung nilai-nilai yang sangat berharga.

Ayatullah Khamenei selanjutnya menilai bahwa salah satu sisi terpenting dari kepribadian Syahid Muthahhari adalah bahwa ijtihad atau pengambilan kesimpulan yang beliau lakukan selalu berdasarkan kepada sumber-sumber Islam yang asli dan valid. Hal ini jelas berlawanan dengan sebagian pemikir dan cendikiawan di masa lalu dan masa kini yang gemar mengambil ijtihad yang tidak berdasar. Syahid Muthahhari sangat menentang ijtihad yang didasarkan pada istihsan atau …, ijtihad yang didasarkan pada perbandingan hukum dengan mazhab atau agama-agama lain, atau ijtihad yang didasarkan pada kejumudan dan penyelewengan.

Ayatullah Khamenei menilai, Syahid Muthahhari merupakan pengejawantahan didikan dan bimbingan guru besarnya, yaitu Imam Khomeini. Syahid Muthahhari meyakini bahwa satu-satunya faktor yang bisa menjamin kebahagiaan dan keselamatan pemikiran masayarakat adalah penyampaian Islam yang bersih, tanpa aksesories dan embel-embel. Keistimewaan Syahid Muthahhari yang bernilai ini secara ringkas bisa disimpulkan dari ucapan Ayatullah Khamenei sebagai berikut:

“Jalan Muthahhari adalah jalan Islam yang murni, tanpa penyimpangan dan jalan inilah satu-satunya yang dapat membuat revolusi ini terjaga dari segi pemikiran.“

Pada masa pemerintahan Shah Pahlevi, seusai menuntut ilmu di hauzah, Syahid Muthahhari memasuki dunia universitas dan menjadi pengajar di fakultas teologi. Dalam waktu singkat, ia menjadi tempat bernaung bagi civitas akademika yang kehausan akan makrifat Ilahi. Ribuan mahasiswa, sarjana, dan para pemerhati ilmu-ilmu baru yang disampaikan Syahid Muthahhari, menjadikannya sebagai nara sumber dan pelindung. Ia mendengarkan perkataan mereka, memahami dan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, dan memberi obat bagi luka-luka hati mereka. Syahid Muthahhari dengan ilmunya yang kaya dan tujuannya yang mulia berhasil menjadi poros penyebaran budaya agama dalam civitas akademika. Ia pun mengorganisasi gerakan kebangkitan agama yang bertahun-tahun kemudian, tanggal10 Februari 1979, dengan dipimpin Imam Khomeini, gerakan itu meraih hasilnya, yaitu tumbangnya rezim Shah yang despotik dan berdirinya Republik Islam Iran.

Syahid Muthahhari berhasil menyatukan dua jalur akademik yang sepertinya berbeda haluan, yaitu hauzah dan universitas. Dengan cara ini, Syahid Muthahhari tidak hanya menjadi penggerak revolusi, melainkan juga menyiapkan pondasi yang kokoh agar republik Islam tetap kokoh berdiri, yaitu pondasi keilmuan dan agama yang bersatu-padu dan saling mendukung. Dalam hal ini, Ayatullah Khamenei berkata, “Karya-karya Syahid Muthahhari selalu hidup, sebagaimana juga kenangan terhadapnya. Buku-buku karya Syahid Muthahhari tidak pernah habis. Jangan sampai kita berpikir bahwa mencetak ulang karya Muthahhari berarti hanya mengulang-ulang semata, karena dalam menyampaikan kebenaran dan hikmah, tidak ada yang disebut sebagai pengulangan.â€

Salah satu rumus keberhasilan Syahid Muthahhari dalam pencapaian ilmu yang tinggi adalah akhlaknya yang mulia. Ia adalah ahli tahajud dan munajat, ahli membaca dan menelaah Al-Quran, dan sangat memperhatikan aspek-aspek irfani atau sufisme dalam kehidupannya. Mengenang kebiasaan Syahid Muthahhari untuk bertahajud, putra beliau menceritakan, pada malam hari ketika ayahnya gugur syahid, sepulang dari rumah sakit dalam keadaan sedih dan duka-lara, tiba-tiba pukul dua dini hari weker di kamar mendiang ayahnya berbunyi. Sudah pasti, weker itu disetel Syahid Muthahhari sebelumnya agar ia bisa terjaga untuk sholat tahajud.

AyatullahKhamenei dalam kenangan beliau tentang kebiasaan bertahajud Syahid Muthahhari berkata, “Di suatu malam, ketika ia menginap di rumah kami, saya mendengarnya sholat malam sambil menangis, dan saya pikir, sebagian besar taufiq yang diperoleh Syahid Muthahhari berasal dari hasil tahajud-tahajudnya. Berkah maknawiah, ibadah, dan irfan-lah yang membuat Syahid Muthahhari berhasil.

(http://abatasya.net/perspektif/syahid-muthahhari-dalam-pandangan-ayatullah-khamenei.html)


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: