Dr.KH.Miftah Faridl: “Untuk Membebaskan Diri Dari Dosa”

17 04 2008

UMAT Islam di akhir bulan Ramadhan merayakan Idul Fitri sebagai simbol kesucian setelah ditempa dalam madrasah ruhani, yaitu shaum ramadhan selama sebulan. Di hari pertama bulan Syawal, umat Islam melaksanakan shalat Idul Fitri secara bersama di lingkungannya. Semua pasti bergembira, karena saat itu seluruh anggota keluarga kumpul dan masyarakat saling bermaaf-maafan. Ini memang sebuah puncak riyadoh ruhani—sebuah prestasi ruhiyah. Namun tak setiap orang dapat memaknai Idul Fitri secara benar. Alih-alih hanya dijadikan upaya “balas dendam” untuk memuaskan nafsu perut dan hasrat, yang selama Ramadhan dibatasi waktu. Juga kadang masyarakat terjebak pada konsumerisme, sehingga tak menjadikan Idul Fitri sebagai momentum kesucian ruhani dan pembebasan dosa.

Bagaimanakah seharusnya umat Islam memaknai Idul Fitri dan kehidupan pascaramadhan? Untuk menjawab semua persoalan tersebut, AHMAD SAHIDIN dari Majalah Swadaya mewawancarai Dr.KH.Miftah Faridl, seorang Ulama dan Dewan Syariah Lembaga Amil Zakat Nasional Dompet Peduli Ummat Daarut Tauhiid (DPU DT), beberapa waktu lalu.

Umat Islam dimana pun berada, di akhir ramadhan merayakan Hari Raya Idul Fitri. Bisa dijelaskan apa makna Idul Fitri?
Id berarti kembali dan Fitri berarti fitrah, kesucian. Jadi Idul Fitri kembali pada kesucian. Mungkin setelah beribadah shaum dan ibadah-ibadah lainnya, betul-betul kembali pada fitrah yang asli yaitu, tanpa dosa mengingat semua manusia terlahir tanpa dosa. Tapi kemudian Idul Fitri menjadi hari raya seperti Idul Adha hari raya kurban.

Siapakah yang benar termasuk orang yang bersih atau suci setelah ramadhan?
Hadits Nabi mengatakan semua manusia lahir dalam keadaan fitrah. Artinya suci dan bersih, Islam. Nah, kesucian itu kemudian menjadi kotor karena pengaruh-pengaruh lingkungan. Pengaruh ayah, ibu atau lingkungannya. Kalau kesucian, kefitrahan tidak dipengaruhinya dengan yang jelek maka dia tetap fitrah. Nah, supaya seseorang kembali pada kesucian, bebas dari pengaruh lingkungan, ia harus mensucikan kembali dengan menjalankan ibadah seperti shaum dengan sebenar-benarnya, yaitu berhenti dari hal yang membatalkan puasa, berhenti dari perbuatan yang mengurangi nilai puasa. Setiap orang yang melaksanakan puasa dengan baik, ia akan kembali pada kesucian, jiwa yang fitri.

Selain idul fitri kita kenal juga mengenal tradisi mudik, adakah hubungannya dengan nilai-nilai Islam?
Ini tradisi yang cukup baik karena dalam bulan Ramadhan sudah membebaskan diri dari dosa-doa kepada Allah maka untuk membebaskan diri dari dosa kepada manusia lahirlah saling maaf memaafkan di bulan Syawal. Filosofinya, dikatakan bahwa salah satu ciri orang yang takwa siap saling-memaafkan orang lain. Nah itu diwujudkan dalam silaturahmi jadi lahirlah mudik. Dari kota pulang ke kampung dengan segala konsekuensinya. Jadi mereka bersilaturahmi dengan orang kampung. Mereka biasanya bawa oleh-oleh untuk orang kampung. Ya biarlah mereka, orang-orang kampung itu bisa menikmati hasil kerja kerabatnya di kota.

Jadi tradisi mudik ini bagian dari silaturahmi?
Ya. Dan memang silaturahmi yang baik itu bertatap muka secara langsung walaupun mungkin bisa melalui SMS, telepon.

Maaf, bisa dijelaskan definisi silaturahmi?
Secara bahasa silaturahmi adalah menghubungkan keakraban, kekeluargaan. Sedangkan dalam arti yang lebih luas yaitu sebuah aktivitas untuk mewujudkan persaudaraan atau ukhuwah islamiyah.

Dalilnya bisa disebutkan?
Banyak. Umpanya dalam sebuah hadits Rasulullah SAW pernah mengatakan, barangsiapa yang ingin dipanjangkan umurnya, dilapangkan rezekinya, maka lakukan silaturahmi. Sebaliknya, barang siapa memutuskan silaturahmi diharamkan masuk surga.

Apa keutamaannya?
Keutamaannya adalah melapangkan rezeki, menyehatkan badan, memanjangkan umur, memberikan ketentraman, kedamaian, dan mencairkan kekurangan serta berbagai hubungan yang kurang harmonis.

Adab-adab dalam bersilaturahmi seperti apa?
Bertemu merupakan salah satu adabnya. Mengunjungi yang sakit, mengunjungi teman yang sudah lama tidak dikunjungi, kalau ada kesalahpahaman kita segera melakukan ishlah. Itu bagian silaturahmi. Jadi budaya Syawal (Idul Fitri) kita berkumpul itu positif. Walaupun Nabi SAW tidak mengajarkan secara khusus aktivitas berkumpul di bulan Syawal.

Apakah bisnis dengan cara berkunjung termasuk silaturahmi?
Iya, silaturahmi bisa dilakukan untuk melakukan sinergi bisnis, sinergi politik. Bisa juga saling wasiat mewasiati, membina atau menyambungkan tali kekeluargaan besan.

Berkaitan dengan tradisi silaturahmi Lebaran, bagaimana seharusnya biar bernilai ibadah?
Pertama, karena sangat banyaknya yang bersilaturahmi ke daerah, selain harus dipersiapkan alat transportasi yang baik, juga harus bergantian. Tidak mungkin pada H-2 misalnya, harus semua keluar. Jadi harus diatur jangan sampai jadi mudharat. Silaturahmi ke daerah ada yang dibawa sebagai oleh-oleh untuk membantu ekonomi mereka.

Kalau silaturahmi yang diajarkan Rasulullah SAW itu bagaimana?

Silaturahim di zaman Nabi, ya antara lain bertemu, betatap muka langsung, dan saling maaf memaafkan. Inti dari silaturahmi menghubungkan atau mewujudkan tali persaudaraan, jangan sampai putus. Dengan bertemu, komunikasi terhubungkan.

Apakah hanya dengan orang yang hidup saja?
Ya. Yang namanya silaturahmi tentu dengan yang hidup. Kalau dengan yang sudah meninggal, berdoa saja.

Bagaimana dengan tradisi ziarah yang seringkali dilakukan umat Islam?
Itu tidak ada. Tapi tidak dilarang oleh agama. Bahwa dulu Nabi melarang orang Islam berziarah, karena umat Islam masih sensitif dengan batu-batu. Tapi kemudian memperbolehkannya karena mungkin sudah kuat imannya. Jadi untuk sekarang pun begitu. Bagi mereka yang masih sensitif, kalau dekat kekuburan hanya untuk meminta, jangan ziarah. Tapi bagi mereka yang sudah kuat imannya, bahwa dengan ziarah akan menambah dekat pada Allah dan sadar dengan peristiwa kematian, maka ziarah menjadi baik dan bermanfaat.

Siapakah yang lebih utama harus kita kunjungi atau silaturahmi?
Tentu yang paling utama orangtua. Silaturahmi yang paling baik itu adalah kita menghubungkan tali persaudaraan, meminta maaf kepada kedua orangtua. Itu yang harus diprioritaskan oleh seorang muslim. Setelah itu baru yang lain.

Bagaimana kalau orangtuanya sudah wafat?
Kalau orangtuanya sudah wafat, ya dengan doa.

Ustadz, amaliah apa saja yang harus dilakukan di pascaramadhan?
Pertama yang dianjurkan adalah melanjutkan puasa enam hari pada bulan Syawal. Kedua, membuktikan keberhasilan shaum pada bulan Ramadhan bahwa melahirkan pribadi-pribadi yang baik. Akhak di bulan Syawal harus lebih baik dari akhlak di bulan Syaban. Kalau di bulan syawal akhlak seseorang lebih tidak baik dari bulan Syaban, artinya shaumnya tidak memberikan pesan spiritual.

Apa keutamaan atau hikmah yang kita dapat dari amaliah tersebut?
Puasa itu kan tujuannya adalah ketakwaan. Jadi seseorang bisa dikatakan sampai ditujuan, jika ia takwa. Di antaranya, semangat saling maaf memaafkan, memenuhi janji, sportif mengakui kesalahan, sabar dalam menghadapi kekurangan rezeki, sabar ketika mendapat musibah, sabar ketika memperjuangkan sesuatu, pengendalian emosi, dll. Itu adalah indikator ketakwaan. Jika terpenuhi, Allah SWT mempunyai janji kepada orang yang takwa itu antara lain berkah. Seperti yang disebutkan dalam Al-Quran.

Pascaramadhan atau awal Syawal, biasanya orang memamerkan kemewahan atau lebih konsumerisme. Menurut ustadz, fenomena apa ini?
Mungkin ini asalnya dari salah satu ajaran Nabi kalau kita mau berangkat shalat Id, maka pakailah pakaian yang terbaik di antara yang ada. Tapi ini ditafsirkan dengan mengganti pakaian yang baru. Sehingga ada kecenderungan konsumerisme. Saya rasa ini perlu dikendalikan. Di satu sisi kita memang baik. Di mana pedagang-pedagang kita menjadi untung, maju jualanya. Tapi di sisi lain, jika tanpa batas yang terjadi adalah konsumrisme. Jadi orang menghimpun uang dan segala macam untuk membeli baju baru lebaran. Ini yang harus di rem. Semangat orang menjual dan semangat orang membeli bagus untuk memajukan perekonomian masyarakat. Tapi kalau sudah berlebih-lebihan, itu membahayakan.

Jadi apa yang seharusnya kita lakukan?
Betul. Ya saya rasa kita harus tetap dalam situasi sederhana. Kita tenggang rasa dengan teman-teman, dan jangan berlebih-lebihan terutama bagi mereka yang kaya. Bagi masyarakat kecil itu tidak berlebihan, jika membeli baju yang biasa-biasa.

Kalau dalam bentuk sosialnya seperti apa?
Jadi salah satu ciri orang yang takwa adalah kepedulian sosial. Yakni siap menolong orang lain dalam segala situasi, bahkan siap membantu orang dengan harta yang dicintai. Jadi intinya adalah sedekah, infak, ada kepekaan menolong orang lain. Tentu saja ketika kita menolong di bidang ekonomi berarti kita berusaha memberikan lapangan pekerjaan pada mereka yang tidak bekerja. Dengan demikian, kita berusaha memajukan lembaga-lembaga usaha supaya orang-orang itu bisa mendapatkan rezeki dengan jalan kerja, bukan dengan jalan minta-minta.

Bagaimana komentar Ustadz tentang fenomena bencana yang menimpa saudara-saudara kit?
Tetap merujuk pada Al-Quran bahwa musibah tidak lepas dari dua kemungkinan. Pertama, teguran dari Allah karena kesalahan kita, dan kedua adalah ujian dari Allah, supaya kita dapat meningkatkan kelas keimanan kita. Banyak musibah terjadi pada kita karena kesalahan kita. Banjir bagaimana pun kesalahan kita. Berbagai macam kecelakaan karena kurang hati-hati, kurang pintar atau banyak dosa. Tapi ada juga hal-hal di luar kemampuan manusia seperti tsunami.

Ada pesan untuk masyarakat?
Pertama, budaya maaf memaafkan di bulan syawal baik. Mari teruskan bahwa budaya itu bukan hanya di bulan syawal. Ada kekurangakraban, kekurangrukunan jangan dibiarkan. Segera sillatuarhmi. Kedua, pengaturan pulang mudik harus diatur sedemikian rupa. Seharusnya pemerintah mengatur cuti secara bergantian. Sehingga kinerja di perusahaan tetap jalan. Di kantor-kantor pemerintahan tidak menjadi beku. Diadakan pembagian kerja yang baik. Semuanya harus dapat diatur.

Kalau untuk para pemimpin di negeri ini?
Nabi SAW pertama kali membangun masyarakat yaitu masyarakat yang bersilaturahmi. Di masjid shalat berjamaah; dengan sering bertemu dapat mencair kesalahpahaman, kejengkelan, keakaraban. Kita juga bisa. Umpamanya saja di setiap daerah shalat berjamaahnya dihidupkan, di kantor, bisa bertemu dengan bos. Suasana bisa cair tanpa harus dibayar. Para politisi pun, bisa cair tanpa harus habis-habisan di koran.

BIODATA
Nama : Miftah Faridl
Kelahiran : Cianjur, 18 Oktober 1944
Alamat : Jalan Sidomukti No.39 Bandung
Istri : S. Farida
Anak : 4 (3 Putri dan 1 Putra)
Pendidikan : S-3 IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Aktivitas dan Jabatan : – Ketua Umum MUI kota Bandung
– Ketua Umum Yayasan UNISBA
– Anggota Senat Institute Teknologi Bandung (ITB)
– Komisaris Utama Biro Haji Safari Suci
– Dewan Syariah LAZNAS DPU DT


Aksi

Information

One response

17 04 2008
Mahasiswa Untuk bangsa

salam kenal akh,,, blog nya seru euy,,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: