Hj.Ninih Muthmainnah: “Tauhid yang mantap, bekal perempuan untuk tetap survive”

14 04 2008

Kaum hawa atau perempuan di Indonesia masih belum menjadi prioritas utama dalam pemberdayaan. Yang tampak hanya permasalahan-permasalahan yang tak kunjung selesai, baik di sektor publik maupun domestik. Apalagi bila melihat media massa, dari mulai kasus pemerkosaan, pembunuhan, kesewenang-wenangan, dan ketidakadilan, banyak menimpa para Tenaga Kerja Wanita Indonesia yang mengadu nasib di luar negeri. Begitu juga di Indonesia, kaum hawa nasibnya selalu tidak beruntung. Bahkan, mereka seringkali diposisikan sebagai objek penderita. Dan memang tak mudah untuk keluar dari semua permasalahan tersebut. Perlu keberanian yang kuat dan mengetahui potensi-potensi yang dimilikinya, terutama dalam usaha-usaha ekonomi mikro.

Sebelum melangkah ke hal itu, tentu yang utama adalah mengenal kodrat, kedudukan dan peranan kaum hawa dalam ajaran Islam. Untuk menggali semua itu, Nurhayati dari Majalah Swadaya mewawancarai Ustadzah Hj.Ninih Muthmainnah, istri dai` kondang KH.Abdullah Gymnastiar, yang terpilih sebagai Ibu Terfavorit pilihan pendengar Women Radio 94.3 FM Jakarta dalam pemilihan Ibu Indonesia 2006. Berikut ini kutipannya:

Menurut Teteh, bagaimana sebenarnya kedudukan perempuan dalam Islam?

Dalam surat Annisa ayat 1, disebutkan bahwa Allah menciptakan manusia dari seorang diri, yaitu yang bernama Nabi Adam. Darinya Allah menciptakan pendamping seorang istri yang bernama Siti Hawa. Dari situ Allah memperkembangbiakkan dari diri yang satu, dan lalu ada pendamping. Dari keduanya lahirlah manusia-manusia. Inilah hikmahnya, tidak akan ada sebuah kehidupan, peradaban kemanusiaan tanpa ada pasangan suami istri.
Artinya, wanita itu sangat berkedudukan. Karena memang menjadi lengkap, teman, bisa juga dikatakan mitra dengan kaum laki-laki. Nah, ini membuktikan bahwa dalam kehidupan kita sekarang ini. Laki-laki tanpa wanita tidak bisa berkembang. Begitu pun wanita tanpa laki-laki. Hanya tinggal bagaimana menciptkan kedudukan wanita yang diharapkan umat. Sebab ada wanita yang seharusnya menjadi mitra dalam kebaikan, tapi malah menjadi perusak. Hal ini kembali kepada tanggungjawab kita sebagai manusia. Yakni menjadi wanita yang berkedudukan di sisi Allah, dan insya Allah akan berkedudukan juga di sisi manusia. Maka jadilah wanita yang taat kepada Allah. Dan ketika dia mentaati makhluknya, harus semata-mata karena Allah.

Apa hikmah dari penjelasan Al-Quran tadi, bila dikorelasikan dengan kondisi perempuan terkini yang penuh dengan permasalahan, seperti kekerasan dalam rumah tangga, eksploitasi perempuan, dan yang lainnya?
Iya, itu kan sudah dari awal-awal dulu pada zaman Rasulullah SAW atau sebelum Rasul lahir, bahwa nanti di akhir zaman itu akan banyak persoalan yang khususnya menyangkut wanita. Tetapi untuk para wanita yang memang gantungannya adalah Allah, apa pun yang terjadi, mau ada trafficking, mau ada kekerasan dalam rumah tangga, itu semua kan hanya ujian dunia. Dan bagi wanita yang memiliki iman yang kuat, hal-hal tadi tidak menjadi persoalan, bahkan akan menguatkan tauhidnya dan semakin mantap keyakinannya pada Allah. Ya, disaat Allah mengujinya, maka ia akan sangat kuat gantungannya kepada Allah.

Menurut Teteh, masalah utama kaum perempuan itu seperti apa? Apa masalah ekonomi?
Sekarang itu, yang menjadi permasalahan wanita adalah karena kelemahan tauhid. Yakni aspek kelemahan iman. Jadi, disaat ada masalah mudah sekali goyah. Seperti pada surat Al-Ankabut ayat 41, bahwa kita ini seperti membuat rumah laba-laba, mudah sekali goyah.
Nah, ketika iman itu lemah dan kalau ada masalah goyah, maka nambah masalah, bukan menyelesaikan masalah. Maka sekarang yang dibutuhkan adalah wanita-wanita yang memiliki kekuatan spiritual. Atau yang memiliki kekuatan tauhid, kekuatan keimanan, sehingga gantungannya benar-benar all out hanya Allah. Jika seperti itu, baru ia akan survive menghadapi apa pun.

Mayoritas perempuan sekarang tampaknya harus menanggung beban ekonomi dan bisa jadi itu penyebab keterpurukan perempuan. Nah, kalau konteks perempuan yang harus menanggung ekonomi keluarga, bagaimana?
Kalau dalam kondisi tertentu, seorang perempuan memang harus ikut menanggung beban ekonomi. Itu juga bila suaminya sudah meninggal, suami di PHK, suami tidak bisa bekerja, atau karena perceraian. Saya pikir, wanita malah harus memiliki keterampilan bagaimana menanggung beban ekonomi keluarga. Lihat bagaimana sosok Siti Hajar bisa tetap tegar ketika tidak didampingi suami. Meski tidak diberikan nafkah sekian tahun oleh suami, Siti Hajar tetap tegar dan yakin pada Allah yang mencukupi rezekinya. Dan kisah Siti Hajar ini pelajaran untuk kaum wanita bahwa dalam situasi tertentu wanita harus mampu dan pasti mampu.

Jadi, menurut Teteh, sebenarnya faktor utama masalah perempuan adalah lemahnya tauhid?
Jadi, ketidaksiapan menghadapi kemiskinan adalah buah dari kelemahan iman. Seseorang bila sudah mantap imannya, miskin itu bukan masalah. Justru, miskin itu kesempatan baginya untuk selalu yakin dengan jaminan Allah. Itu janji Allah. Miskin kan dalam tanda kutif. Biar miskin harta, tapi hati kaya. Bila seperti itu, maka Allah yang akan mencukupi dan menuntunnya dalam berusaha, ikhtiar.

Lalu, adakah solusi yang lebih konkrit untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi perempuan, selain memperkuat tauhid?
Teteh yakin, seorang wanita yang dasar tauhidnya mantap, tidak hanya menggantungkan ketawakalan kepada Allah tanpa ikhtiar. Justru ikhtar itu bagian dari tawakal. Seperti tadi, sosok Siti Hajar, benar-benar pelajaran untuk kaum wanita, bahwa disaat gantungannya hanya Allah, di situlah energi untuk bisa berusaha mendapatkan rezeki berupa air zam-zam. Kan waktu itu beliau tidak tinggal diam.
Nah, ini pelajaran untuk kaum wanita, bahwa disaat kita yakin dengan seyakin-yakinnya dengan pertolongan Allah, dengan perlindungan Allah, jaminan dari Allah, dia akan berusaha meminta kepada Allah. Ya Allah, tuntun, saya belajar apa? Tentu secara lahiriah, syariat, kita harus memulainya sesuai dengan potensi yang dimiliki. Misalnya, jika bisa menjahit, maka belajarlah menjahit yang profesional. Seperti Nabi Muhammad SAW pada zaman dulu, kan bisa menjahit. Kemudian, kalau kita bisa masak, belajarlah bagaimana memasak yang enak dan bergizi. Dan itu merupakan bagian dari amal shalih, yang sekaligus dengan keterampilan yang dimiliki itu menjadi jalan mendapatkan rezeki. Itu ajaran Islam. Bukan hanya mengurus ibadah mahdoh atau memantapkan tauhid, tapi juga ada ikhtiar, yang hal itu bisa menjadi bekal ibadah dan tidak menjadi beban bagi orang lain.

Apa yang bisa dilakukan masyarakat, khususnya perempuan agar ikut berperan serta memberdayakan dan memandirikan kaum perempuan?
Pertama, Rasulullah SAW mengajarkan ibda bin nafsi, mulailah dari diri sendiri. Artinya, disaat kita ingin bermanfaat bagi perempuan lain, kita harus bisa membawa diri, terutama mandiri spiritual. Bagaimana agar tauhid kita mantap, keyakinan kita kepada Allah mantap, tidak setengah-setengah. Walaupun itu semua membutuhkan proses, tapi kita menuju ke sana.
Kedua, kita memilih keterampilan yang memang itu menjadi jalan mendapatkan rezeki dari Allah. Kalau itu sudah dimiliki pribadi kita masing-masing, kita tidak boleh merasa selamat sendiri. Kita punya tanggungjawab untuk mengajak kaum wanita lainnya. Kalau kita sudah memiliki kemandirian spiritual, kemandirian sosial, kemandirian finansial, itu akan lebih mudah dalam memberikan arahan atau mengajak kaum wanita yang lain. Sebab pada diri kita sudah ada kekuatan untuk menyampaikan, tidak hanya kata-kata, tapi juga dengan bukti.
Coba ihatlah nanti. Mungkin tidak langsung banyak-banyak, tapi orang-orang terdekat dahulu, dan itu tidak hanya kata-kata tapi harus ada action yang langsung dilakukan. Tentu harus pula ada bimbingan secara sistematis dan berkesinambungan. Kalau satu wanita saja bisa mengajak atau memberdayakan tiga wanita, nanti yang tiga itu bisa memberdayakan tiga wanita lagi. Itu kan efeknya berantai.
Jadi, wajib bagi setiap kita untuk memiliki keterampilan yang bisa memberdayakan orang lain. Itu kan dicontohkan istri-istri Rasulullah SAW. Meskipun Rasulullah SAW sudah jelas dijamin Allah rezekinya, tapi beliau menganjurkan dan memberikan kesempatan kepada istri-istrinya untuk berkpirah sesuai dengan potensi masing-masing. Mau menjadi penenun, seperti Siti Zaenab, Siti Khadijah yang awal-awalnya menjadi pedagang, dan Siti Aisyah, yang dengan keilmuannya bisa mengajar. Dan pada masa sekarang ini banyak perempuan yang menjadi pengusaha, menjadi seorang pendidik.

Bagaimana pendapat Teteh tentang program pemberdayaan yang diselenggarakan Lembaga Amil Zakat Nasional Dompet Peduli Ummat Daarut Tauhiid (DPU DT), seperti Baby Sitter yang berkerjasama dengan Muslimah Center dan Microfinance Syariah berbasis Masyarakat (Misykat) yang mayoritas anggotanya perempuan?
Setuju sekali. Karena kelemahan kita sekarang ini, ketika para dhuafa bergantung pada orang lain, tapi dirinya kurang kreatif. Misalnya ketika ada bantuan dari zakat, sudah dinikmati ya sudah selesai. Tapi kan tidak seperti itu. Rasulullah SAW memberikan contoh tidak memberikan ikannya, tapi memberikan kailnya. Program Misykat, Baby Sitter atau program-program DPU DT lainnya, merupakan salah satu upaya untuk membuat seseorang tidak bergantung dengan bantuannya, tapi bergantung dengan keyakinan kepada Allah. Dan ikhtiarnya memberikan kail, memberikan modal untuk bisa bertanggungjawab dan selanjutnya tidak menjadi beban. Ia bisa mandiri, dan mandiri secara finansial.
Saran Teteh, tetap yang paling penting adalah pembinaan personal, pembinaan orang-orang yang mendapat bantuan, baik itu Baby Sitter atau Misykat. Jangan sampai kita memberikan bantuan, tapi menjerumuskan. Sehingga membuat seseorang menjadi malas, atau seseorang menjadi tenang-tenang saja karena ada yang bantu. Tidak begitu, justru di situ harus ditanamkan bahwa ini hanya ikhtiar, syariat, jalan. Adapun kemudahan rezeki itu datangnya hanya dari Allah.

Sebagai seorang ibu, apa nasihat Teteh untuk mengantisipasi masalah-masalah tadi?
Teteh kira peran ibu sangat dibutuhkan terutama dalam keluarga. Karena itu masing-masing individu, masing-masing ibu harus bertanggungjawab terhadap garapannya masing-masing. Syukur bila DPU DT bisa memfasilitasi. Misalnya para ibu itu diberikan pembinaan oleh para ustadzah yang kualifikasi keilmuannya sudah memadai sampai bisa mengamalkannya. Teknisnya mungkin nanti ada sekolah terbuka, khusus kaum ibu. Ini cita-cita. Dana DPU DT kan titipan umat. Kenapa tidak membuat sekolah buat pembinaan ibu-ibu secara sistematis, sehingga ibu-ibu bisa menjadi dosen di rumahnya masing-masing dan mengajar anak-anaknya dengan baik.
Subhanallah, jika ibunya terdidik dengan baik, insya Allah dengan pertolongan Allah akan ada perkembangan pesat dan ada semangat baru dalam berkiprah.

biodata

NAMA LENGKAP
Dra. Ninih Muthmainnah binti Muhsin

NAMA PANGGILAN

Teh Ninih atau Ummu Ghaida Muthmainnah

KELAHIRAN
Cijulang (Ciamis, Jawa Barat), 28 Januari 1967

ALAMAT
Pesantren Daarut Tauhiid, Jalan Gegerkalong Girang No.30 D RT 01 RW 06
Bandung 401554

TELP/FAKS

022-2002282/022-2003421

PENDIDIKAN

– Sekolah Dasar Negeri (SDN) Ciamis
– Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Ciamis
– Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Ciamis
– S-1, Jurusan Matematika, Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan [IKIP] (Universitas Pendidikan Indonesia) Bandung

MOTTO
“Hidup ini adalah perjuangan untuk menggapai kasih sayang Allah”

SUAMI
KH.Abdullah Gymnastiar

ANAK
– Ghaida Tsurayya
– M.Ghazi Al-Gifari
– Ghina Raudhatul Jannah
– Ghaitsa Zahira Soffa
– Ghefira Nur Fatimah
– M.Ghaza Al-Ghazali
– Gheriyya Rahima


Aksi

Information

3 responses

15 04 2008
Hartati Nurwijaya

Assalammu’alaykum wrwb,

Kalau boleh saya mau mengcopy hasil wawancara dengan Teh Ninih ini untuk dipasang di blog saya.

Terima kasih.

26 12 2011
fadiya

Assalamu’alaikum,,,,,,,maaf boleh minta no or alamat facebooknya teteh ninih tidak???biar bisa sering dengan beliau??

10 11 2013
susysaktiar@yahoo.com

Asslam mualaikum Teteh, boleh curhat Teh…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: