Erie Sudewo: ”Mengatasi Kemiskinan Tak Lain Bicara Kebijakan Politik”

19 03 2008


Ajaran agama Islam sangat menganjurkan untuk berbagi dengan mereka yang kurang beruntung dalam hidupnya. Untuk ruhani, Islam menekankan umatnya agar belajar dan mencintai ilmu. Sedangkan aspek materi, umat Islam yang memiliki kecukupan harta diwajibkan zakat, infak, atau shodqah, untuk mereka yang tergolong miskin atau dhuafa.

Aspek sosial Islam ini hingga 15 abad dalam pengelolaannya sudah mengalami perubahan. Asalnya hanya sekedar bagi-bagi habis, kini melalui program pemberdayaan mampu memandirikan sekaligus menjadikan mereka tidak tergantung dengan pemberian. Ini memang tujuan dari zakat, yaitu membersihkan ruhani dan memberdayakan umat Islam.

Namun bagaimana peran dan perkembangan zakat Indonesia serta masalah-masalah yang terjadi di dalamnya, Ahmad Sahidin dari Majalah Swadaya mewawancarai Erie Sudewo, praktisi zakat dan entrepreneur sosial Indonesia. Berikut ini kutipannya:

Apa makna zakat bagi Bapak?

Bagi saya zakat itu punya hidden politic. Dalam istilah lain bisa disebut hidden agenda. Untuk yang wajib, seperti shalat hanya lima waktu. Puasa yang wajib pun hanya di Ramadhan. Yang sunah, tak terhingga bilangannya. Islam memang luar biasa. Yang wajib, selalu sedikit jumlahnya. Zakat pun kan cuma 2.5%. Selebihnya yang 97.5%, suatu angka yang konteksnya boleh tak terhingga. Kekuatan bilangan tanpa batas ini tampak maknanya bila disingkap dari istilah zakat.

Istilah lain dari kata zakat adalah sedekah. Sedekah terbagi dua. Ada materi serta ada yang tak berwujud. Yang awam melihat, materi punya peran lebih. Bagi mereka, dengan tunaikan zakat 2.5% selesailah tugas Rukun Islam ke-3. Padahal jika dikaitkan dengan kandungan kalifah fil’ard, ternyata 2.5% itu tak cukup. Tiap orang akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya. Pemimpin bukan hanya para pejabat atau direktur saja. Pemimpin adalah minimal dia memimpin dirinya sendiri. Membawa diri sebagai pemimpin, artinya dia harus bisa memberi kebaikan dan kenyamanan bagi lingkungannya.

Menurut Bapak, bagaimana perkembangan zakat di Indonesia?

Ada data FOZ (Forum Zakat) Indonesia menyebutkan tahun 2005, total zakat yang dihimpun LAZ dan BAZ (Badan Amil Zakat) seluruh Indonesia hanya Rp 500-an miliar. Tahun 2006 berkisar Rp 600 miliar. Himpunan total itu, tak mencapai 10% potensi terendah.

Memang potensi zakat di Indonesia menggiurkan. BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional) mencatat Rp 13 triliun. PIRAC sebuah LSM yang dikomandoi Zaim Saidi, mendata Rp 16 triliunan. UIN Syarif Hidayatullah mensurvei potensinya mencapai Rp 19 triliun. Sedang hitungan saya malah di atas ketiga lembaga tersebut.

Kalkulasinya begini. Penduduk Indonesia yang 220 juta, katanya 80% muslim. Dibulatkan ada 180 juta. Kaya dan miskin dibagi dua, masing-masing 90 juta orang. Mencacah yang miskin mesti jiwa. Sementara menghitung yang kaya, harus kepala keluarga. Dengan tiga anak, jumlah anggota keluarga kaya jadi lima. Maka 90 juta : 5 ada 18 juta KK. Dari 18 juta muslim kaya, berapa yang mau jadi muzaki (pembayar zakat)? Inilah yang jadi soal. Sebab kamampuan orang kan berbeda-beda.

Maka dalam konteks ini zakat dipilah atas tiga potensi. Yang pertama adalah potensi terendah, bayar zakat Rp 50 ribu/bulan. Jika muzaki cuma 10/%, terhimpun Rp 90 miliar/bulan = hampir Rp 1,1 triliun/tahun. Total 18 juta mau muzaki semua, zakatnya Rp 900 miliar/bulan setara dengan Rp 10,8 triliun. Kedua, potensi progresif dengan bayar Rp 100 ribu/bulan. Dengan 10% dari total 18 juta KK, terhimpun zakat Rp 180 miliar/bulan. Dengan muzaki 18 juta, maka terkumpul Rp 1,8 triliun/bulan. Pertahun diperolah angka Rp 21,6 triliun. Dan ketiga, potensi ideal dengan bayar Rp 150 ribu/bulan. Himpunan terkecil yang 10%, zakatnya di kisaran Rp 270 miliar/bulan. Jika 18 juta mau bayar zakat semua, diperoleh angka Rp 32,4 triliun.

Benarkah zakat bisa menjadi solusi mengatasi masalah-masalah sosial dan ekonomi umat Islam, seperti kemiskinan di Indonesia?

Jika zakat hanya dilihat yang 2.5%, pasti tak bisa atasi kemiskinan. Yang 2.5% itu kecil. Kemiskinan itu akibat kebijakan. Jangan lupa menggusur satu rumah itu tercela. Tapi menggusur 1.000 rumah, hasilnya real estate. Atasi satu keluarga miskin itu tindakan filantrophi. Namun atasi 1.000 keluarga miskin itu kebijakan. Maka untuk atasi satu keluarga miskin bisa dengan 2.5%. Tetapi mengatasi 1.000 keluarga miskin, sulit dengan 2.5% zakat.
Mewujudkan kesejahteraan bangsa, tidak identik dengan atasi kemiskinan melulu. Artinya negara harus menata seluruh sektor. Untuk itu negara mesti pandai mengemas sumber daya sebagai instrumen pembangunan. Jika tak piawai, negara hanya terpaku pada pajak saja. Bila negara lemah, pajak pun bakal ditelikung pengemplang pajak. Alhasil, sudah tak punya sumber daya lain. Pajak pun dikerjai aparatnya sendiri.

Apa dan bagaimana peranan zakat dan lembaga amil zakat dalam upaya membangun Indonesia yang sesuai dengan cita-cita Islam dan harapan rakyat?

Untuk membangun negeri, ada beberapa pilar instrumen yang bisa dimainkan. Semakin cerdas SDM pemerintah, semakin sejahtera sebuah bangsa. Semakin sejahtera sebuah bangsa, otomatis tingkat kemiskinan pun terkikis dengan sendirinya.

Ada beberapa pilar instrumen yang bisa dilihat agar pembangunan negeri berjalan baik. Pertama dari sektor pajak. Dana ini bisa sebagai instrumen fiskal. Dihimpun setiap tahun serta dianggarkan untuk tahun berikut dan digunakannya untuk operasional pemerintah, menggaji pegawai pemerintah dan militer, membangun infrastruktur. Kedua, sektor perbankan. Sektor ini memainkan peran penting dalam mendongkrak usaha dan perkembangan bisnis masyarakat. Maju mundurnya sebuah negara, bisa dilihat dari sehat tidaknya lembaga keuangan khususnya perbankan. Ketiga, sektor asuransi. Kehadirannya amat dibutuhkan terutama untuk menjamin agar seseorang atau keluarga mendapat jaminan hidup layak. Keempat, sektor dana pension. Dana pensiun ternyata juga jadi sumber yang besar. Dana ini pun bisa dikelola dalam usaha yang menguntungkan. Kelima, sektor dana haji. Tabung Haji Malaysia telah buktikan. Dana yang dihimpun diinvestasikan dalam usaha yang menguntungkan. Keuntungannya dipakai membayar ongkos haji. Keenam, sektor CSR (Corporate Social Responbilty). Indonesia masih mengabaikan sektor ini. Jika dana ini bisa dihimpun seperti PKBL (Program Kemitraan dan Bina Lingkungan) BUMN, maka manfaatnya juga besar. Sebab dengan penyisihan dari total laba sebesar 5%, potensinya yang dihimpun amat besar. Ketujuh, sektor zakat. Untuk sektor ini pemerintah Indonesia masih setengah hati. Jangankan zakat yang cuma 2.5% dan mesti dihimpun rupiah demi rupiah. Meneg BUMN sendiri menolak membeli BUMN yang sudah dijual. Jika pemerintah serius, dana zakat jadi sumber yang bisa didulang tiap tahun. Penerima zakat sudah jelas yaitu delapan asnaf. Kedelapan, sektor sedekah atau infak. Dana ini bisa dihimpun jika program yang ditawarkan memang bisa melipatkan kebajikan, terutama didorong motivasi agama. Dan yang terakhir, kesembilan adalah sektor wakaf. Lembaga Al-Azhar Kairo Mesir jadi contoh betapa dana wakaf bisa membuat Al-Azhar Kairo hidup berabad-abad lamanya. Artinya, manfaat yang bisa diberikan kepada penerima atau umat bermanfaat besar. Jutaan pelajar dan mahasiswa yang mendapat beasiswa Al-Azhar.

Apa tantangan dan masa depan lembaga zakat di tahun 2008 atau 1429 hijriyah ini?

Awalnya saya kira mengelola zakat hanya untuk atasi satu dua keluarga miskin. Ternyata keluarga miskin terus lahirkan anak-anaknya yang miskin. Lalu strategi diubah. Rajutan silaturahim lebih dimaknai agar kepalan tangan di atas makin kuat menghentak. Namun kesenjangan toh makin menganga. Akhirnya saya tersadar bahwa mengatasi kemiskinan tak lain bicara kebijakan politik.

Pajak yang ratusan triliun gemetar, maka 2.5% jadi gurauan. Namun jangan gegabah mengecilkan arti zakat. Karena sekecil apapun, ZISWA (zakat, infak shodaqah, dan wakaf) telah menghidupkan berbagai aktivitas keumatan di tingkat grass-root.

Saya yakin, hingga yaumil akhir zakat mustahil padam. Namun di tingkat institusi, zakat tetap tak berdaya. Alih-alih berkurang, memasuki 2008 zakat malah makin kuat tertumbur kendala. Pertama, fiqih zakat masih individu. Jika MUI sepakat, fiqih zakat musti naik derajat ke fiqih masyarakat. Kedua, amandemen UU 38 tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat masih wacana. Paling cepat April 2008 draft amandemen selesai. Padahal draft yang diusul BAZNAS dan FOZ sudah digulir di DPR sejak 2005.

Ada dua hal minimal yang harus diamandemen, yakni kelembagaan serta isu zakat kurangi pajak. Soal kelembagaan, bisakah departemen tawarkan solusi. Di pemegang kebijakan, zakat terbetot di tiga pusaran (departemen, presiden dan DPR). Di departemen, sulitnya merumus draft amandemen karena kikuk terjemahkan kelembagaan seperti apa yang tepat mengelola zakat. Perancang amandemen punya hasrat, sementara zakat telah tumbuh di masyarakat. Jikapun draft amandemen punya solusi jitu, tembus lingkungan presiden bukan soal mudah. Apalagi jika DPR kritis, maka zakat tetap terengah-engah.

Soal zakat kurangi pajak, hingga akhir 2008 masih tetap wacana. Amandemen itu sendiri belum selesai. Di Ditjen Pajak, usulan zakat kurangi pajak masih asing. Akhir 2007 DPR baru ketok palu UU 28 tahun 2007 tentang Ketentuan Umum Perpajakan (KUP). Dalam pasal 1 ayat 1 huruf 22 di UU 28/2007 ini, ditegaskan yang bisa kurangi pajak hanya pajak itu sendiri. Posisi UU 28/2007, untuk sementara jadi penjegal zakat kurangi pajak. Tapi harapan masih ada. Sebab UU 17 th 2000 tentang Penghasilan Kena Pajak (PKP) belum diubah. Zakat yang jadi Pengurang Penghasilan Kena Pajak (PPKP) dalam UU 17/2000, masih bisa diperjuangkan jadi pengurang pajak.

Akhirnya jelas di 2008 ini. Secara kultural individual, zakat tetap hidup sebagai kegiatan philantrophy di grass-root. Dibanding LSM, mereka punya ideologi sosial dan sinerji yang kuat. Sedang tradisi umat anggap sepi ideologi sosial serta masih kuat sudzon-nya. Secara politik, zakat yang harusnya diarahkan negara karena wajibnya jadi mati suri. Kebijakan apapun tenggelam dalam cengkeraman tradisi sudzon yang selalu memecah. Institusi tidak powerfull, hanya indah di lantun seminar dan workshop tentang potensi zakat.

biodata
NAMA LENGKAP
Erie Sudewo

KELAHIRAN
Bandung, 25 September1957

ALAMAT TINGGAL
Jalan Kenanga II No.13 Pesanggrahan Depsos Bintaro, Jakarta

E-MAIL
eriesudewo@yahoo.com

BLOG
http://eriesudewo.blogspot.com

PENDIDIKAN
– S-1 Universitas Indonesia (UI) Jakarta
– Program Master Asian Institute of Management (AIM) Philippines

AKTIVITAS
– Penulis buku-buku zakat, pemberdayaan dan masalah-masalah sosial
– Trainer specialist Human Resources Training, Zakat Management & Workshop
– Consultant specialist Corporate Social Responsibility and Community Development
– Advisor Corporates, forum and NGO’s in Indonesia.


Aksi

Information

5 responses

28 08 2008
waryanto

TUHAN MAHA MENCIPTAKAN,MEMILIKI,MEMERINTAH DAN MEWARISI

28 08 2008
waryanto

HAMPIR 9 BULAN INI SMS SY BLUM DI RESPON.KENAFAA? OH,MUNGKIN JALANYA MASIH MANUAL DAN NGLEWATI PEGUNUNGAN?
NO;HP GANTI?

5 03 2013
5 03 2013
Bastarin Yus

ass…. mas erie sadewo apa kabar

20 01 2015
Ilmansyah

Jika mau berkah dan berhasil, sukses berzakatlah 10%

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: