Dr. H. Arsyad Ahmad, M.Pd: “Pemberdayaan itu butuh orang berpengalaman, fokus, dan pendampingannya harus terus-menerus”

13 03 2008


Nasib kaum dhuafa atau orang-orang miskin di Indonesia kian lama tambah mengkhawatirkan. Sudah berpenghasilan kecil, minim, dijerat lagi dengan lintah darat. Ini masalah klasik yang tak beres-beres. Meski sudah banyak program pengentasan kemiskinan yang tujuannya memberdayakan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tetap saja belum ada hasilnya.

“Coba Anda lihat Bangladesh, Muhammad Yunus dengan program Grameent Bank berhasil meningkatkan taraf hidup orang-orang miskin. Mereka, kaum ibu diberdayakan,” ungkap Arsyad, seorang pakar pemberdayaan ekonomi mikro, beberapa waktu lalu.

Untuk mengetahui lebih jauh mengenai pemberdayaan ekonomi mikro kaum dhuafa dan masalah pelaksanaannya di lapangan, Ahmad Sahidin dari Majalah Swadaya mewawancarai Dr. H. Arsyad Ahmad, M.Pd., di kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bandung, Jalan Sadang Serang, Bandung.

Bisa dijelaskan pengertian home industry?

Home industry itu usaha rumah tangga yang dikelola secara sederhana. Belum ada izin dan masih terbatas dalam pengelolaannya. Karyawannya keluarga dan melibatkan saudara-saudaranya. Manajemennya masih diatur bapak atau salah seorang di keluarganya. Usaha rumah tangga ini kiprah usahanya berskala kecil. Hanya bergerak di sekitar lingkungan rumah.

Faktor apa saja yang mendoromg lahirnya home industry di masyarakat?

Biasanya karena hobi. Ini yang pertama. Yang senang membuat kue, ia membuat dan dijual. Kedua, ia butuh untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Ia membuat kue misalnya, dan ada orang yang memesan atau menerima order dari yang lain sehingga bisa menerima pendapatan dari aktivitasnya itu. Nah, order ini menjadi faktor yang ketiga. Biasanya kan orang kalau sudah terima order jadi punya pendapatan yang tetap.

Jadi, lahirnya home industry ini disebabkan karena adanya hobi, kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan order yang berlanjut sehingga ia punya penghasilan.

Apa perbedaan home industry dan corporate industry?

Ya beda. Home industry itu bersifat sederhana dan kecil serta terbatas. Sedangkan corporate industry itu besar dan dikelola secara profesional dengan manajemen yang diurus para ahlinya. Tempat usahanya juga beda dengan para pengusaha kecil. Tempatnya di gedung-gedung bertingkat atau di sebuah lokasi yang luas dengan sarana yang memadai. Pendapatan dan jumlah karyawannya juga banyak. Bahkan corporate industry yang berhasil dan maju biasanya punya cabang di beberapa kota atau daerah.

Bagaimana keterlibatan masyarakat miskin dalam ekonomi mikro sampai saat ini?

Saya ingin mengemukakan dulu mengenai standar miskin. Bila kita lihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS), kategori batas miskin itu adalah Rp. 150 ribu maksimum. Jika ada seseorang yang pendapatannya Rp. 150 ribu, maka ia masuk dalam kategori miskin. Sedangkan, yang pendapatannya di atas itu termasuk tidak miskin. Kalau pendapatan Rp. 150 ribu, apakah cukup untuk hidup sekeluarga? Tidak. Nah, coba kalau kita naikkan jadi 500 ribu, saya kira masyarakat miskin bisa mencapai 120 juta lebih yang masuk kategori miskin. Ini menurut pakar ekonomi Islam Dr.Muhammad Antonio Syafi’i. Artinya, masyarakat miskin yang ada di negeri ini mencapai setengah dari seluruh penduduk Indonesia. Ini berarti, masyarakat kita perlu ditingkatkan pendapatannya. Satu-satunya jalan adalah dengan menggerakkan ekonomi mikro.

Nah, kita harus fokus ke ekonomi mikro yang memberdayakan masyarakat. Di Bangladesh ada Muhammad Yunus dengan Grameent Bank memberdayakan kaum ibu miskin. Harusnya di Indonesia ada yang seperti itu. Lembaga seperti Dompet Peduli Ummat Daarut Tauhiid (DPU DT) atau lembaga amil zakat lainnya memang bergerak dalam pemberdayaan ekonomi mikro. Namun, tidak kelihatan hasilnya. Misykat (Microfinance Syariah Berbasis Masyarakat) DPU DT saja belum ada hasilnya. Untuk berjalannya dengan baik dan tampak hasilnya, harus ada orang yang fokus mengurus pemberdayaan ekonomi mikro ini.

Muhammad Yunus itu seorang doktor yang idealis, cerdas, punya dana dan memiliki kemampuan untuk terjun ke lapangan. Orang kaya kita kan tidak seperti itu. Punya uang tapi tidak memiliki kepedulian sosial. Orang pintar di Indonesia itu banyak. Tapi belum maksimal dalam kinerjanya karena terbatas kemampuan finansial. Kita punya KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) yang kemampuan finansialnya lumayan lebih dari cukup. Tapi idealisme untuk pemberdayaan dan pengembangan ekonomi mikro kaum mustadh`afin belum terdengar. Inilah masalahnya. Harusnya ada yang bergerak dalam pemberdayaan ekonomi mikro kaum mustadh`afin bila memang mau berhasil seperti Grameent Bank yang digerakan oleh Muhammad Yunus.

Kalau kita lihat di Bangladesh, ternyata yang diberdayakan itu kaum perempuan. Artinya yang lebih tertarik untuk berdaya itu bukan kaum laki-laki?

90 % ibu-ibu miskin. Yang bermasalah itu laki-laki atau bapak-bapak dan yang jadi korban istri dan yang menderitanya anak-anak. Itulah yang mendorong kaum ibu di Bangladesh mau bergabung dengan program Muhammad Yunus. Ibu-ibu berupaya untuk menyelesaikan masalah-masalah kebutuhan hidup dengan kewirausahaan. Coba Anda lihat Bangladesh, Muhammad Yunus dengan program Grameent Bank berhasil mengingkatkan taraf hidup orang-orang miskin. Mereka, kaum ibu diberdayakan. Ini kan prestasi pemberdayaan.

Bukankah di Indonesia ini ada kementerian pemberdyaan perempuan dan bidang ekonomi kecil yang berupaya menyejahterakan rakyat miskin?

Ya ada. Cuma berapa banyak yang ditangani. Paling hanya pelatihan-pelatihan. Tak cukup untuk memberdayakan kaum perempuan. Saya kira, tidak ada orang yang ahli dalam pemberdayaan ini yang duduk di instansi-instansi pemerintahan tersebut.

Sejauh ini, bagaimana peran pemerintah dalam mengembangkan usaha-usaha kecil masyarakat miskin di Indonesia?

Ya, kalau dananya sih memang ada dan dianggarkan. Tapi, cuma sebatas pelatihan saja dan tidak berkelanjutan. Tidak bisa hanya sekadar pelatihan saja. Pemberdayaan itu butuh orang yang fokus dan pendampingan yang terus-menerus dan berkelanjutan. Saya lihat memang ada beberapa lembaga yang bergerak, tapi cuma sebatas pelatihan aja. Di dalamnya tak ada pemberdayaan.

Saya harap lembaga-lembaga yang bergerak dalam kedermawanan atau instansi sosial harus mulai memikirkan ke arah itu. Yakni harus punya modal, punya idealisme, dan fokus untuk memberdayakan secara berkelanjutan. Tidak sekadar pelatihan dan selesai begitu saja.

Bagaimana bapak melihat peluang, potensi, dan tantangan atau hambatan dalam menjalankan program pemberdayaan ekonomi mikro?

Potensi dana banyak di Indonesia. Dana umat Islam seperti zakat, infak, shadaqah yang ada di negeri ini kan baru beberapa persen yang berhasil dimanfaatkan. Belum lagi dana pemerintah. Harusnya ada yang memulai untuk memanfaatkan potensi-potensi itu untuk pemberdayaan ekonomi mikro yang berkelanjutan.

Saya melihat di masyarakat itu kan usahanya beragam. Untuk itu, dalam mewujudkan pemberdayaan perlu melihat potensi yang dimiliki masyarakat itu sendiri. Kita harus tahu kemampuannya dalam apa. Ini tidak gampang. Ini harus dilakukan secara periodik sehingga kita akan tahu akan diarahkan ke usaha apa masyarakat miskin yang ingin diberdayakan ini.

Apa standar keberhasilan dari pemberdayaan ekonomi mikro atau home industry yang dijalankan kaum dhuafa di masyarakat?

Sebagai contoh penjual jagung. Lihat saja, kalau hari ini ia menjual jagung sepuluh dan dua hari atau beberapa hari kemudian bertambah jumlahnya, ini bisa jadi berhasil dalam meningkatkan nilai produksinya. Nah, untuk nilai uangnya, misalnya dari Rp. 100 ribu penghasilannya menjadi Rp. 200 ribu. Terus kita lihat kesejahteraannya. Apakah anaknya yang tidak sekolah jadi bersekolah? Jika anaknya sudah bisa sekolah dan bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya, berarti ia berhasil. Nah, Ini salah satu indikasi untuk mengukur keberhasilan sebuah pemberdayaan ekonomi mikro kaum miskin.

Bagaimana prospek ekonomi mikro atau usaha-usaha kecil di masa depan?

Coba lihat usaha kue, jajanan pasar. Gorengan-gorengan yang dijual di pasar kan laku. Ini artinya usaha kecil itu punya prospek. Nah, ini buktinya. Namun, untuk pengembangan dan peningkatan pendapatan dan produksi perlu dibimbing dan dibina secara berkala. Yang penting mereka punya semangat keras untuk bekerja dan berusaha. Kenapa orang miskin itu tidak punya semangat bekerja keras? Orang miskin itu tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Tidak mengerti yang harus dikerjakannya. Itulah sebabnya mereka harus diarahkan dan dibina secara berkelanjutan. Ini memang butuh waktu. Tapi kalau power, duit misalnya ada, mereka pada dasarnya mau berusaha.

Apa tanggapan bapak terhadap program pemberdayaan ekonomi mikro Misykat yang digulirkan Lembaga Amil Zakat Nasional Dompet Peduli Ummat Daarut Tauhiid?

Saya pernah hadir di forum Misykat. Saya bagikan kartu nama saya. Beberapa ibu-ibu sudah merespon dan bertanya tentang usaha. Namun sayang, usaha mereka belum menampakkan hasilnya. Sayang tidak ada kelanjutannya. Saya melihat Misykat sampai hari ini masih mentah. Meskipun ada pendamping, tapi belum menampakkan hasil yang memuaskan. Belum terberdayakan dan mandiri. Kalau hanya satu dua orang, itu bukan prestasi.

Untuk program pemberdayaan ekonomi mikro seperti Misykat harus ada orang profesional yang khusus dan ahli di bidangnya. Yang saya lihat, SDM atau orang di DT itu sering dipindah-pindah. Jadi, dari nol lagi. Saya mau kalau memang dibutuhkan DPU DT untuk pemberdayaan ekonomi mikro ini. Kalau hanya mengandalkan pendamping, Misykat tidak akan berjalan dengan baik. Harus ada orang ahli yang memberikan masukan dan pengembangkan para anggota Misykat. Orang-orang yang berpengalaman dalam pemberdayaanlah yang mestinya mengurus program Misykat.

Misykat lahir agar jadi solusi bagi masyarakat dhuafa sehingga tidak terjerat rentenir. Bagaimana pendapat bapak?

Sungguh mulia tujuan itu. Tapi, benarkah selama ini sudah berhasil mencapainya. Saya kira belum. Coba Anda telusuri di beberapa daerah dan perkotaan, apakah masyarakat kecil sudah lepas dari rentenir? Tidak, saya yakin belum. Ini terjadi di mana-mana. Di Kota Bandung ini masyarakat kecilnya, rata-rata diperkirakan sudah terjerat rentenir. Saya sedih melihatnya. Karena kita tidak memiliki komitmen yang kuat untuk bergerak dan melepaskannya dari hisapan lintah darat itu. Ini butuh sistem, harus ada orang dan organisasi yang rapih, yang punya kemauan untuk mengurus pemberdayaan dan kesejahteraan masyarakat dhuafa. Kalau bisa Misykat DPU DT mengurus dulu masalah rentenir. Lepaskan mereka dari jeratannya. Setelah itu, baru bimbing dan arahkan untuk mandiri dan maju dengan program pemberdayaan ekonomi mikro atau entrepreneurship.


Ada pesan yang ingin disampaikan untuk lembaga yang bergerak dalam pemberdayaan umat seperti DPU dan Pesantren Daarut Tauhiid?

Saya ingin Aa Gym bisa jadi seorang Muhammad Yunus yang memberdayakan dan meningkatkan ekonomi kaum dhuafa. Jika ini dilakukan Aa Gym, saya kira citra Aa Gym di masyarakat akan pulih kembali dan menjadi sosok yang luar biasa. Kyai yang peduli kaum dhuafa dan riil dalam pemberdayaan ekonomi mikro.

Saya yakin Aa Gym bisa karena punya potensi untuk menggerakkan ke arah itu. Coba Anda lihat, tak ada tokoh agama yang bergerak dalam ekonomi yang sifatnya riil di masyarakat. Aa Gym kan punya beberapa perusahaan. Riil kan dalam ekonomi. Berapa banyak kader dan orang yang merasakan manfaat dari adanya Aa Gym di sekitar Pesantren Daarut Tauhiid. Ia bikin buku dan dijual. Ini bagian dari aktivitas ekonomi. Aa Gym itu sudah seperti Muhammad Yunus dengan pola Aa Gym sendiri. Tapi, belum bisa menyejahterakan dan memberdayakan kaum dhuafa secara luas. Baru beberapa orang yang dekat saja. Ini tak cukup. Memang Aa Gym banyak urusannya. Tapi kan banyak orang di Daarut Tauhiid yang menjalankannya. Tidak hanya Misykat DPU DT. Kalau memang itu, ya jalankan dengan sebaik-baiknya hingga masyarakat dhuafa Bandung merasakan kehadirannya.


BIODATA

Nama
Dr. Ir. H. Arsyad Ahmad, M.Pd

Kelahiran
Bukit Tinggi, 12 Mei 1954

Istri
Dra. Iim Khotimah, M.Pd

Anak
Putri Arvina Maharani dan Arlando Putra Arvianto

Pendidikan
S-1 Jurusan Teknik Tekstil Institut Teknologi Tekstil Bandung, lulus tahun 1984
S-2 Konsentrasi Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, lulus tahun 2001
S-3 Program Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, lulus tahun 2006

Aktivitas dan Jabatan
Ketua Bidang Pembinaan Ekonomi Umat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bandung
Sekretaris Koperasi KADIN (Kamar Dagang Indonesia) Kota Bandung 2005-2008
Wakil Ketua Gerakan Persaudaraan Muslim Indonesia tahun 2003-2008
Ketua Harian Forum PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) Jawa Barat tahun 2006-2010
Wakil Sekretaris Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Bandung tahun 2003-2008
Manajer Klinik Konsultan Bisnis (KKB) Kanwil Depkop & PKM Jawa Barat tahun 1997 hingga sekarang

Alamat
Kompleks Vijaya Kusuma A3 No.8 Cibiru Bandung. E-mail: kkb_jabar@yahoo.com


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: