Karakter Psikososial Korban Bencana

14 02 2008

Oleh ADI FAHRUDIN, Ph.D.

LETAK geografis dan aturan hukum yang belum kuat, membuat Indonesia rawan terhadap berbagai bencana, baik bencana alam, teknologi, maupun bencana sosial. Bencana alam seperti tsunami, longsor, gempa dan lain-lainnya, semuanya saling terkait. Bencana alam terjadi karena pemerintah tidak tegas memberikan sanksi hukum kepada perusak lingkungan, seperti pelaku penebangan kayu di hutan, dan sebagainya.

Bencana sosial juga terjadi karena lemahnya aparat pemerintahan dalam menegakkan hukum. Sehingga, kelompok orang yang tidak bertanggung jawab atas nama hak asasi sangat mudah menyulut konflik-konflik sosial antar kampung, antar masyarakat, bahkan antar agama seperti halnya di Poso dan Maluku. Juga ada bencana teknologi, seperti kecelakaan pesawat terbang dan kapal laut. Ini biasanya terjadi karena human error dan kurangnya kontrol pra terbang. Andai punya standar, pasti terhindar dari kecelakaan. Untuk lumpur Sidoarjo, bisa dikategorikan bencana alam dan teknologi akibat kegagalan penerapan teknologi.

Oleh karena itu, saya perkirakan ke depannya tantangan Indonesia lebih hebat dalam pencegahan maupun penanganan pascabencana. Penanganan pascabencana terlihat sekali dalam penanganan keluarga korban pesawat Adam Air. Mereka panik dan tidak ada yang menanganinya. Ini akan timbulkan dampak psikososial yang cukup berat, depresi misalnya. Hal ini akbat ekspos media yang rutin dan informasi yang simpang siur, sehingga mereka selalu dalam kondisi was-was dan dibayangi khayalan-khalayan buruk. Seharusnya, ada pihak yang peduli untuk menenangkan mereka karena sangat berbahaya bagi kondisi kejiwaannya. Apalagi, jika sudah diketahui keluarganya wafat, pasti sangat berat penderitaan keluarga korban.

Saya kira, belum ada yang menangani aspek psikologis dan ekonomi mereka. Meskipun ada asuransi, namun itu hanya jangka pendek dan sementara serta aspek psikologisnya sangat besar. Trauma psikologis akibat kehilangan anggota keluarga akan berdampak panjang. Apalagi, bagi anak-anak. Bahkan, diberitakan ada anggota keluarga korban yang berimajinasi pada suatu malam anaknya datang. Ini salah satu ciri trauma psikologis yang menimpa mereka. Kondisi korban juga berbeda tingkat traumanya atau masing-masing punya ukurannya sendiri-sendiri dan tergantung pada karakteristik korban yang bersangkutan. Satu dari dimensi sosial-psikologis, yaitu aspek personality. Ada orang yang cepat pulih, ada juga orang yang lambat sembuhnya.

Nilai-nilai agama
Aspek religiusitas (keagamaan—red) sangat menentukan cepatnya pemulihan dampak psikososial korban. Bila aspek religiusitas tinggi, keluarga korban lebih cepat menerima bencana sebagai suatu cobaan dan ada hikmah yang bisa diambil dari kejadian itu.

Orang seperti ini akan mampu mengumpulkan energi yang ada untuk menata kehidupan selanjutnya. Tapi, jika masih trauma, maka akan mengganggu aktivitas hidupnya sehari-hari. Energinya lebih banyak digunakan untuk memikirkan orang yang hilang. Untuk menanganinya, tidak cukup hanya dengan konseling, tapi perlu pendampingan terus menerus. Cepat tidaknya proses penyembuhan, sangat tergantung kepada pribadinya dan pengaruh nilai-nilai agama dalam masyarakatnya.

Tidak semua orang yang menjadi korban bencana akan mengalami traumatik yang berujung pada gangguan mental. Ada yang lambat dan ada yang cepat. Seperti remaja yang putus cinta pertama, ada yang cepat melupakan dan mencari lagi pasangan baru, tetapi ada juga yang trauma sehingga memutuskan untuk tidak menikah. Inilah karakteristik personality tiap manusia. Masing-masing mempunyai karakteristik berbeda karena penyebabnya berbeda, walaupun ada unsur-unsur yang sama. Aspek emosi, afeksi, dan kognisi serta perilaku korban-korban pun berbeda. Dari ketiganya itu akan berbeda bila dilihat dari kasus atau jenis bencana yang menimpa.

Dalam penelitian yang saya lakukan, setiap orang itu berbeda-beda. Misalnya korban bencana alam, dalam hal emosi lebih, tapi dari aspek kognisi lemah. Ada yang kognisinya kuat tapi perilakunya lemah. Bila diakumulasikan, ketiga dimensi trauma ini tetap tinggi dan berbahaya. Hal ini bisa dilihat dari periodesasi. Awal kejadian bencana pasti pengalaman traumatik yang tinggi karena semua membicarakan, kadang-kadang menangis hingga kita pun larut. Jadi periode ini berbeda-beda.

Biasanya, dalam beberapa pekan, orang sangat ingin mendapatkan informasi atau kejelasan mengenai anggota keluarga, ingin cepat tahu bagaimana kondisinya dan berharap masih bisa diselamatkan. Ini juga bisa disebut trauma, suatu kondisi kejiwaan yang sangat membekas.

Sedangkan, post traumatic adalah kejadian yang sangat membekas dan memiliki sisa. Pengalaman sisa yang membayanginya itu mempengaruhi residu. Selanjutnya, residu itu memengaruhi emosi (afeksi) dan kognisi disertai dengan tingkah laku yang berbeda.

Dengan afeksi itu, korban biasanya masih larut dan sering menangis. Ia masih membayangkan sehingga tingkah lakunya sangat terpengaruhi oleh kondisi jiwanya. Pada situasi ini, korban harus bisa keluar dari kondisi psikis seperti itu. Korban dalam pendampingan harus diarahkan untuk menerima realita hidup dengan harapan bisa menjadi lebih baik dalam menjalani kehidupan barunya. Namun, dalam penerimaanya akan berbeda, bisa positif bisa negatif. Korban yang tidak bisa menerima secara positif, nanti akan menganggap ada suara-suara yang memanggilnya. Akhirnya, dia pergi ke mana saja sesuai dengan yang bayangkannya. Kadang, untuk menghilangkan kondisi atau rasa sakit, tidak jarang mulai menggunakan obat-obat anti depresi. Asalnya tidak merokok menjadi perokok, bahkan ada yang menggunakan narkotika.

Sebenarnya, kalau melihat sekilas korban bencana sudah nampak. Tapi ini harus dilakukan dengan pengukuran dan pemeriksaan. Pemeriksaan itu bisa dilihat dari berbagai aspek, misalnya tekanan darah. Bila tinggi, itu salah satu indikasi. Dari aspek mental dapat diukur dalam hal konsentrasi dan kestabilan emosi. Atau, apakah korban-korban itu berada pada tingkat yang ringan, sedang, atau kondisinya berat? Bila berat, harus segera dirujuk. Untuk kondisi sedang pun harus ditangani serius.

Peran institusi sosial
Tindakan aktif prefentif dari lembaga atau institusi harus bergerak cepat untuk mencegah korban mengalami depresi berat. Artinya, di samping penanganan tanggap darurat, juga segera berikan pendampingan bagi korban yang berada di lokasi bencana tersebut. Peran dan tugas ini bisa dilakukan lembaga-lembaga swadaya masyarakat, institusi Islam, atau lembaga amil zakat seperti halnya Dompet Peduli Ummat Daarut Tauhiid (DPU DT).

Langkah pertama dalam penanganan korban adalah pendampingan awal. Semakin cepat didampingi, makin cepat mereka bisa recovery. Jika dibiarkan, kondisinya akan makin parah. Jangan sampai sesudah tiga bulan, baru ada pendampingan. Saya sangat setuju, kalau misalnya, regu penyelamat tetap berjalan dengan dibarengi pendampingan psikososialnya. Aktivitas pendampingan psikososial ini, salah satunya memberikan perhatian terhadap korban. Bila korban secara ekonomi mampu, beri pencerahan spiritual untuk menguatkan aspek-aspek religiusitasnya. Ini penting dilakukan. Sebab dengan spiritual akan memberikan hakikat atau penguatan atas kenyataan yang menimpanya.

Cara menangani korban bencana berbeda-beda. penanganannya harus disesuaikan dengan kondisi korban. Untuk itu, saat masuk ke lokasi bencana perlu didampingi tim konseling atau relawan yang paham psikologi. Hal ini sangat diperlukan untuk mengetahui kondisi kekuatan psikologis korban, sehingga lamanya waktu penanganan dapat diukur.

Jadi, untuk menangani korban bencana semestinya ada institusi atau lembaga yang secara epik action memberi respon cepat kepada korban. Dalam konteks itulah menurut saya, organisasi seperti DPU DT pun bisa melakukannya. Bukan hanya memberikan bantuan financial, tetapi juga pendampingan kepada keluarga koran. Apalagi, bila kita melihat kinerja pemerintah yang kurang maksimal dalam menangani trauma pasca bencana ini, peran lembaga sosial sangat penting.

Untuk pelaksanaannya, lembaga harus melibatkan potensi atau kearifan lokal dalam menjalankan kinerjanya. Sebab, merekalah yang lebih paham dan mengenal kondisi geografis serta kebutuhan-kebutuhannya.

Jika melihat kondisi geografis, geologis, dan potensi-potensi bencana sosial dan teknologi, maka sudah seharusnya bangsa kita sadar dan siap terhadap bencana. Tentu, yang lebih penting adalah menyiapkan payung sebelum hujan. Artinya, sebelum terjadi bencana, masyarakat yang berpotensi terkena bencana diberi pendidikan bencana dan antisipasinya serta melakukan simulasi. Dengan kesiapan yang matang, insyaAllah, kerugian materi dan jumlah korban dapat diminimalisir. Sehingga, korban bencana akan mudah untuk bangkit kembali melanjutkan kehidupannya pascabencana.

ADI FAHRUDIN,
pengajar di Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung dan dosen tamu Universitas Sains Malaysia

SUMBER: Naskah ditranskrip oleh Ahmad Sahidin


Aksi

Information

One response

19 02 2013
Bridget

I personally ponder how come you named this particular blog post, “Karakter Psikososial
Korban Bencana ALTANWIR”. Regardless I personally
appreciated it!I appreciate it,Bernice

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: