<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Prof. Edi Suharto, M.Sc., Ph.D :”Nabi Muhammad SAW merupakan sosok pemberdaya yang multi dimensi”</title>
	<atom:link href="http://altanwir.wordpress.com/2008/02/19/prof-edi-suharto-msc-phd-%e2%80%9dnabi-muhammad-saw-merupakan-sosok-pemberdaya-yang-multi-dimensi%e2%80%9d/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://altanwir.wordpress.com/2008/02/19/prof-edi-suharto-msc-phd-%e2%80%9dnabi-muhammad-saw-merupakan-sosok-pemberdaya-yang-multi-dimensi%e2%80%9d/</link>
	<description>ahmad sahidin</description>
	<lastBuildDate>Sun, 11 Oct 2009 14:34:17 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: Nandang Noor RH (AZMI)</title>
		<link>http://altanwir.wordpress.com/2008/02/19/prof-edi-suharto-msc-phd-%e2%80%9dnabi-muhammad-saw-merupakan-sosok-pemberdaya-yang-multi-dimensi%e2%80%9d/#comment-139</link>
		<dc:creator>Nandang Noor RH (AZMI)</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 14 Oct 2008 17:42:44 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://altanwir.wordpress.com/?p=41#comment-139</guid>
		<description>Sepakat, hanya saja tugas kita saat ini, tidak hanya bermemori tentang Rasululloh dengan segala bentuk keteladan yang beliau telah lakukan dalam mendampingi ummat, tapi harus pula dimunculkan  kembali keteladanan itu dalam kondisi saat ini walo dalam konteks yang sedehana. 
Realitas yang mudah kita temukan saat ini, sebagian masyarakat lebih memilih membayarkan zakat secara langsung daripada melalui LAZ atau sejenisnya. Barangkali ini pula yang sudah digaris bawahi oleh P&#039;Edi tentang kepercayaan ummat terhadap lembaga tersebut.
Satu pengalaman saya ketika belajar bersama masyarakat Jepang tentang pemberdayaan, yakni jika sebuah lembaga sejenis LAZ sudah “punya catatan baik di masyarakat “, peran mereka tidak selalu harus mengumpulkan dana dan menyalurkannya kepada kelompok yang membutuhkan, tapi aktifitas keseharian mereka adalah mendorong pemangku kepentingan lokal untuk bertanggung jawab dengan persoalan sosial yang terjadi di wilayahnya. Mereka memaksimalkan peran para manajer kasus di lembaganya.
Sementara di tanah air kita, semua kelompok berlomba-lomba mendirikan Lembaga Pengumpul Dana dengan cara menjual program-program “pemberdayaan masyarakat” dengan sedikit dibumbui isu transparansi anggaran untuk marketingnnya. Sebagian besar masih beranggapan bahwa Lembaga Pengumpul Dana identik dengan mengumpulkan dana dalam bentuk fisik untuk disalurkan kepada masyarakat.
Oleh karena itu, saya berharap kepada Pakar seperti Pak Edi Suharto, yang pendapatnya setidaknya bisa didengar oleh masyarakat, untuk bisa melahirkan tulisan yang temanya  berkenaan dengan strategi/ kiat-kiat yang yang harus dimiliki oleh masyarakat ketika berniat mendirikan sebuah lembaga pengumpul dana, agar tidak terjebak dalam tugas-tugas yang sempit. Termasuk saya barangkali membutuhkan sekali masukan-masukan dari P’Edi berkenaan dengan hal tersebut. 
Wassalam.
Nandang Noor RH (Alumni Japan National Council of Social Welfare)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sepakat, hanya saja tugas kita saat ini, tidak hanya bermemori tentang Rasululloh dengan segala bentuk keteladan yang beliau telah lakukan dalam mendampingi ummat, tapi harus pula dimunculkan  kembali keteladanan itu dalam kondisi saat ini walo dalam konteks yang sedehana.<br />
Realitas yang mudah kita temukan saat ini, sebagian masyarakat lebih memilih membayarkan zakat secara langsung daripada melalui LAZ atau sejenisnya. Barangkali ini pula yang sudah digaris bawahi oleh P&#8217;Edi tentang kepercayaan ummat terhadap lembaga tersebut.<br />
Satu pengalaman saya ketika belajar bersama masyarakat Jepang tentang pemberdayaan, yakni jika sebuah lembaga sejenis LAZ sudah “punya catatan baik di masyarakat “, peran mereka tidak selalu harus mengumpulkan dana dan menyalurkannya kepada kelompok yang membutuhkan, tapi aktifitas keseharian mereka adalah mendorong pemangku kepentingan lokal untuk bertanggung jawab dengan persoalan sosial yang terjadi di wilayahnya. Mereka memaksimalkan peran para manajer kasus di lembaganya.<br />
Sementara di tanah air kita, semua kelompok berlomba-lomba mendirikan Lembaga Pengumpul Dana dengan cara menjual program-program “pemberdayaan masyarakat” dengan sedikit dibumbui isu transparansi anggaran untuk marketingnnya. Sebagian besar masih beranggapan bahwa Lembaga Pengumpul Dana identik dengan mengumpulkan dana dalam bentuk fisik untuk disalurkan kepada masyarakat.<br />
Oleh karena itu, saya berharap kepada Pakar seperti Pak Edi Suharto, yang pendapatnya setidaknya bisa didengar oleh masyarakat, untuk bisa melahirkan tulisan yang temanya  berkenaan dengan strategi/ kiat-kiat yang yang harus dimiliki oleh masyarakat ketika berniat mendirikan sebuah lembaga pengumpul dana, agar tidak terjebak dalam tugas-tugas yang sempit. Termasuk saya barangkali membutuhkan sekali masukan-masukan dari P’Edi berkenaan dengan hal tersebut.<br />
Wassalam.<br />
Nandang Noor RH (Alumni Japan National Council of Social Welfare)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Yunarlis</title>
		<link>http://altanwir.wordpress.com/2008/02/19/prof-edi-suharto-msc-phd-%e2%80%9dnabi-muhammad-saw-merupakan-sosok-pemberdaya-yang-multi-dimensi%e2%80%9d/#comment-65</link>
		<dc:creator>Yunarlis</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 May 2008 19:03:30 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://altanwir.wordpress.com/?p=41#comment-65</guid>
		<description>Saya setuju dan sepakat tentang pentingnya pemberdayaan sebagai suatu usaha untuk memberikan, motivasi, kekuatan dan kemampuan kepada masyarakat untuk merubah menjadi lebih baik.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya setuju dan sepakat tentang pentingnya pemberdayaan sebagai suatu usaha untuk memberikan, motivasi, kekuatan dan kemampuan kepada masyarakat untuk merubah menjadi lebih baik.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: giko</title>
		<link>http://altanwir.wordpress.com/2008/02/19/prof-edi-suharto-msc-phd-%e2%80%9dnabi-muhammad-saw-merupakan-sosok-pemberdaya-yang-multi-dimensi%e2%80%9d/#comment-14</link>
		<dc:creator>giko</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 04 Mar 2008 02:42:40 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://altanwir.wordpress.com/?p=41#comment-14</guid>
		<description>bang sementara ini sy lg sibuk menulis skripsi mengenai negara kesejahteraan, ya itu terinspirasi dari tulisan2 bang...
ditambah fenomena daerah tempat saya tinggal yg sembraut..
sy mohon sarannya bang...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>bang sementara ini sy lg sibuk menulis skripsi mengenai negara kesejahteraan, ya itu terinspirasi dari tulisan2 bang&#8230;<br />
ditambah fenomena daerah tempat saya tinggal yg sembraut..<br />
sy mohon sarannya bang&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
