Ustadz Habib Muhammad Rizieq Shihab: “Fatwa MUI hanya untuk Syiah Ghulat”

15 07 2008

“Namanya juga media massa, ada orang di pinggir jurang belum jadi berita. Tapi kalau sudah nyebur ke jurang baru jadi berita. Kadang-kadang dia tunggu dulu sampai orang itu masuk jurang. Bahkan bila perlu didorong agar masuk jurang supaya jadi berita.”

Itulah kritik Habib Muhammad Rizieq Shihab, Ketua Front Pembela Islam (FPI), terhadap media-media massa, yang baginya, sering tidak adil dalam memberitakan aktivitas ormas yang dipimpinnya.

Padahal, bagi Habib Rizieq, demikian ulama vokal ini biasa disapa, FPI memiliki empat metode dalam menjalankan setiap aktivitasnya, yang jarang diungkap media-media massa. Pertama, FPI harus mengedepankan kelembutan sementara tindakan tegas hanyalah solusi akhir. Kedua, FPI hanya concern terhadap jenis “kemaksiatan” yang sudah disepakati, bukan yang masih diperselisihkan. Ketiga, FPI hanya memerangi maksiat yang dilakukan secara terang-terangan dan terbuka. Keempat, FPI membagi dua wilayah: amar makruf dan nahi mungkar. Amar makruf adalah wilayah kemasiatan yang “didukung” oleh masyarakat, misalnya, karena persoalan mata pencaharian. Di sini, tidak dilakukan tindakan tegas demi menghindari konflik horizontal dan mudarat yang lebih besar. Baca entri selengkapnya »





TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH: Dari Fiqh Al-Khulafa’ Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme

15 07 2008

Oleh JALALUDDIN RAKHMAT

1. FIQH AL-KHULAFA’ AL-RASYIDIN: FIQH PENGUASA

Seorang laki-laki datang menemui ‘Umar bin Khathab: “Saya
dalam keadaan junub dan tidak ada air.” Maksud kedatangannya
untuk menanyakan apakah ia harus shalat atau tidak.

‘Umar menjawab, “Jangan shalat sampai engkau mendapatkan air.”
‘Ammar bin Yasir berkata pada ‘Umar bin Khathab: “Tidakkah
Anda ingat. Dulu –engkau dan aku– pernah berada dalam
perjalanan. Kita dalam keadaan junub. Engkau tidak shalat,
sedangkan aku berguling-guling di atas tanah. Aku sampaikan
kejadian ini kepada Rasulullah saw. Dan Nabi berkata, cukuplah
bagi kamu berbuat demikian.”

Mendengar demikian Umar menegur ‘Ammar: “Ya Ammar, takutlah
pada Allah”, Kata Ammar, “Ya Amir al-Mu’minin, jika engkau
inginkan, aku tidak akan menceritakan hadits ini selama engkau
hidup.” [1] Baca entri selengkapnya »





Islam dan Pembebasan

15 07 2008

Oleh ASGHAR ALI ENGINEER

Suatu agama, baik yang mengaku sebagai agama wahyu maupun tidak, tidak bisa lepas dari pengaruh situasi asal-usulnya yang kompleks. Adanya campur tangan Tuhan sekalipun, tidak bisa terlepas dari pengaruh-pengaruh ini. Teologi Islam, sebagaimana dinyatakan oleh Al-Qur’an, tidak mengenal konsep campur tangan Tuhan yang semena-mena, bahkan dalam teologi Asy’ariah sekalipun. Pernyataan Al-Qur’an dalam masalah ini sangat jelas.

“Kamu tidak akan pernah menemukan perubahan apa pun pada sunnah Allah”.[1]

Bahkan pahala dan siksa Tuhan, berbeda dengan teologi Calvinis, bukan atas dasar tindakan Tuhan yang semena-mena. Al-Qur’an menyatakan,

“Tidak ada sesuatu pun bagi manusia, kecuali apa yang diupayakan”.[2]

Tentu saja, petunjuk Allah (taufiq min Allah) tidak ditolak, tetapi petunjuk Allah itu, sepanjang perhatian teologi Al-Qur’an, tidaklah bersifat semena-mena. Taufiq (petunjuk Allah) dalam teologi Islam sesungguhnya merupakan potensi untuk bertindak yang diciptakan Tuhan, yang masih mempunyai kemungkinan dapat atau tidak dapat diaktualisasikan, karena manusia adalah “agen” yang bebas.

Proses historis juga sangat diperlukan dalam Islam. Sejarah bukanlah mitos, bukan pula suatu proyek arbitrer yang sama sekali tidak mempunyai kausalitas sosial. Al-Qur’an memang mempunyai pendekatan teleologis sebagaimana kisah nabi-nabi Israel yang diceritakan dengan penggambaran yang jelas, tetapi kausalitas tidaklah diabaikan begitu saja. Kemurkaan Allah kepada suatu bangsa atau seseorang diberlakukan ketika mereka mengabaikan proses kausalitas sosial dan berbuat menyimpang dari sunnah-Nya, baik secara fisik (hukum alam) maupun moral (hukum-hukum etik yang mengacu pada hudud Allah dalam Al-Qur’an). Al-Qur’an menyatakan: Baca entri selengkapnya »