Puasa: Syariat, Tharikat, dan Hakikat

23 07 2008

Oleh AHMAD SAHIDIN

Saya ingin berbagi cerita tentang seorang muslim yang hidup setelah masa khulafa ar rasyidun. Cerita ini saya dapatkan dari Ustadz Jalaluddin Rakhmat, pakar komunikasi, ketika memberikan tausiyah di salah satu masjid di Bandung. Sebutlah namanya Fulan. Ia pada masa itu dikenal ahli ibadah yang tinggal di serambi masjid nabawi. Ia hampir tiap hari melakukan itikaf, dzikir, shalat dan ibadah lainnya. Ia jarang ke luar karena penglihatannya tidak normal alias buta. Suatu hari datang kabar bahwa temannya sakit keras. Kemudian ia menengoknya dengan diantarkan sahabatnya yang lain. Ketika tiba temannya itu meminta ia untuk berdoa demi kesembuhannya. Karena itulah setiap selesai shalat ia mendoakannya. Ajaibnya, beberapa hari setelah kunjungan itu temannya sembuh.

Atas kesembuhan itulah ia dinilai sebagai wali yang dapat menyembuhkan orang dengan doa. Karena alasan itu pula banyak orang yang meminta didoakan olehnya. Tiap orang yang meminta doa kepadanya senantiasa terkabulkan. Sampailah suatu hari seorang teman bicara kepadanya, “Fulan, doa-doamu itu sangat mujarab dan benar-benar dikabulkan Allah. Tapi aku heran kenapa engkau tidak berdoa untuk kesembuhan matamu sendiri.”

Ditanya seperti itu Fulan menjawab, “Tidak, aku tidak ingin melakukan sesuatu yang menguntungkan diriku sendiri. Aku merasa beruntung karena kecacatanku ini telah mendekatkan aku kepada Allah. Dan kemungkinan besar bila mataku normal pasti akan lebih banyak terjerumus dalam kemaksiatan dibandingkan ketaatan.” Baca entri selengkapnya »





ADI FAHRUDIN, Ph.D: ”Tidak semua orang yang menjadi korban bencana akan mengalami traumatik yang berujung pada gangguan mental”

18 07 2008

Bencana meluluhlantakkan kehidupan dan tatanan masyarakat. Korban jiwa, harta, dan kerugian ekonomi pun tak tak terbilang. Mengapa ada bencana? Apa faktor yang melatarbelakanginya? Adakah dampak sosial dan kejiwaannya bagi para korban?

Persoalan inilah yang dikupas oleh ADI FAHRUDIN, Ph.D, dosen Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung dan dosen tamu Universitas Sains Malaysia, dalam sebuah wawancara dengan AHMAD SAHIDIN dari Majalah Swadaya. Berikut ini kutipannya:

Menurut pendapat Bapak, terjadinya bencana di negeri ini disebabkan apa?

Letak geografis dan aturan hukum yang belum kuat, membuat Indonesia rawan terhadap berbagai bencana, baik bencana alam, teknologi, maupun bencana sosial. Bencana alam seperti tsunami, longsor, gempa dan lain-lainnya, semuanya saling terkait. Bencana alam terjadi karena pemerintah tidak tegas memberikan sanksi hukum kepada perusak lingkungan, seperti pelaku penebangan kayu di hutan, dan sebagainya.
Bencana sosial juga terjadi karena lemahnya aparat pemerintahan dalam menegakkan hukum. Sehingga, kelompok orang yang tidak bertanggung jawab atas nama hak asasi sangat mudah menyulut konflik-konflik sosial antar kampung, antar masyarakat, bahkan antar agama seperti halnya di Poso dan Maluku. Juga ada bencana teknologi, seperti kecelakaan pesawat terbang dan kapal laut. Ini biasanya terjadi karena human error dan kurangnya kontrol pra terbang. Andai punya standar, pasti terhindar dari kecelakaan. Untuk lumpur Sidoarjo, bisa dikategorikan bencana alam dan teknologi akibat kegagalan penerapan teknologi.
Oleh karena itu, saya perkirakan ke depannya tantangan Indonesia lebih hebat dalam pencegahan maupun penanganan pascabencana. Penanganan pascabencana terlihat sekali dalam penanganan keluarga korban pesawat Adam Air. Mereka panik dan tidak ada yang menanganinya. Ini akan timbulkan dampak psikososial yang cukup berat, depresi misalnya. Hal ini akbat ekspos media yang rutin dan informasi yang simpang siur, sehingga mereka selalu dalam kondisi was-was dan dibayangi khayalan-khalayan buruk. Seharusnya, ada pihak yang peduli untuk menenangkan mereka karena sangat berbahaya bagi kondisi kejiwaannya. Apalagi, jika sudah diketahui keluarganya wafat, pasti sangat berat penderitaan keluarga korban. Baca entri selengkapnya »





Pentingnya Menuntut Ilmu

18 07 2008

Oleh AHMAD SAHIDIN

Tidak ada agama yang begitu serius mengatur persoalan ilmu dan pendidikan, selain agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Agama yang diridhai Allah Ta`ala ini, menempatkan ilmu pada posisi yang luar biasa, sehingga umat Islam diwajibkan untuk menuntutnya.

Ada beberapa hadits yang menjadi rujukan mengenai hal tersebut. Di antaranya adalah “Menuntut ilmu adalah wajib atas setiap muslim” (HR.Bukhari); “Barangsiapa berjalan di satu jalan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah mudahkan jalan menuju surga. Dan sesungguhnya malaikat meletakkan sayap-sayapnya bagi penunutu ilmu tanda ridha dengan yang dia perbuat”(HR.Muslim); “Barangsiapa keluar dalam rangka mencari ilmu, maka dia berada di dalam jalan Allah hingga kembali” (HR. Tirmidzi); dan dalam hadits yang diriwayatkan Ar Rabii’, Rasulullah SAW bersabda, “Tuntutlah ilmu, sesungguhnya menuntut ilmu adalah pendekatan diri kepada Allah Azza wa Jalla. Sedangkan mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah shadaqah. Sesungguhnya ilmu pengetahuan adalah keindahan bagi ahlinya di dunia dan akhirat.” Baca entri selengkapnya »