Ustadz Habib Muhammad Rizieq Shihab: “Fatwa MUI hanya untuk Syiah Ghulat”

15 07 2008

“Namanya juga media massa, ada orang di pinggir jurang belum jadi berita. Tapi kalau sudah nyebur ke jurang baru jadi berita. Kadang-kadang dia tunggu dulu sampai orang itu masuk jurang. Bahkan bila perlu didorong agar masuk jurang supaya jadi berita.”

Itulah kritik Habib Muhammad Rizieq Shihab, Ketua Front Pembela Islam (FPI), terhadap media-media massa, yang baginya, sering tidak adil dalam memberitakan aktivitas ormas yang dipimpinnya.
Baca entri selengkapnya »





TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH: Dari Fiqh Al-Khulafa’ Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme

15 07 2008

Oleh JALALUDDIN RAKHMAT

1. FIQH AL-KHULAFA’ AL-RASYIDIN: FIQH PENGUASA

Seorang laki-laki datang menemui ‘Umar bin Khathab: “Saya
dalam keadaan junub dan tidak ada air.” Maksud kedatangannya
untuk menanyakan apakah ia harus shalat atau tidak.

‘Umar menjawab, “Jangan shalat sampai engkau mendapatkan air.”
‘Ammar bin Yasir berkata pada ‘Umar bin Khathab: “Tidakkah
Anda ingat. Dulu –engkau dan aku– pernah berada dalam
perjalanan. Kita dalam keadaan junub. Engkau tidak shalat,
sedangkan aku berguling-guling di atas tanah. Aku sampaikan
kejadian ini kepada Rasulullah saw. Dan Nabi berkata, cukuplah
bagi kamu berbuat demikian.”

Mendengar demikian Umar menegur ‘Ammar: “Ya Ammar, takutlah
pada Allah”, Kata Ammar, “Ya Amir al-Mu’minin, jika engkau
inginkan, aku tidak akan menceritakan hadits ini selama engkau
hidup.” [1] Baca entri selengkapnya »





Islam dan Pembebasan

15 07 2008

Oleh ASGHAR ALI ENGINEER

Suatu agama, baik yang mengaku sebagai agama wahyu maupun tidak, tidak bisa lepas dari pengaruh situasi asal-usulnya yang kompleks. Adanya campur tangan Tuhan sekalipun, tidak bisa terlepas dari pengaruh-pengaruh ini. Teologi Islam, sebagaimana dinyatakan oleh Al-Qur’an, tidak mengenal konsep campur tangan Tuhan yang semena-mena, bahkan dalam teologi Asy’ariah sekalipun. Pernyataan Al-Qur’an dalam masalah ini sangat jelas.

“Kamu tidak akan pernah menemukan perubahan apa pun pada sunnah Allah”.[1]

Bahkan pahala dan siksa Tuhan, berbeda dengan teologi Calvinis, bukan atas dasar tindakan Tuhan yang semena-mena. Al-Qur’an menyatakan, Baca entri selengkapnya »





Sikap dan Pandangan Filosofis Muthahari terhadap Sains modern*

15 07 2008


Oleh MEHDI GOLSHANI**

Prolog
Masuknya sains modern ke dalam dunia Islam pada permulaan abad ke-19 diiringi bermacam-macam reaksi. Namun demikian, kandungan filosofisnyalah, dan bukan oleh sains modern itu sendiri, yang mempengaruhi pandangan-pandangan kaum intelektual Muslim. Karena itu, kita bisa mendengar sikap yang berbeda-beda di seantero dunia Islam. Di sini kita membagi reaksi kaum intelektual tersebut ke dalam empat aliran besar:

(1) Kelompok minoritas ulama yang enggan bersentuhan dengan sains modern, karena menganggap sains modern bertentangan dengan ajaran agama Islam. Bagi mereka, masyarakat Islam harus mengikuti ajaran Islam dengan ketat dan mengharuskan umat Islam memiliki sainsnya sendiri.

(2) Kelompok intelektual Islam yang mengadopsi habis-habisan sains modern dan mengkampanyekan pandang dunia yang bersifat empiris. Menurut mereka, menguasai sains modern merupakan satu-satunya solusi untuk melepaskan dunia Islam dari stagnasi. Mereka memandang sains modern sebagai satu-satunya sumber pencerahan yang sejati.

(3) Sejumlah ilmuan Muslim yang mengakui peran sentral sains modern terhadap kemajuan Barat dan menganjurkan asimilasi sains modern, meskipun tetap menaruh perhatian terhadap masalah-masalah keagamaan. Kelompok ini terdiri dari mayoritas intelektual Muslim yang dapat dibagi lagi sebagaimana berikut:

• Sejumlah pemikir Muslim, seperti Seyyed Jamal al-Din dan Rasyid Rida, berusaha memberi justifikasi terhadap sains modern berdasarkan landasan keagamaan. Mereka memandang sains modern sebagai kelanjutan dari sains yang dihasilkan peradaban Islam masa lalu. Oleh karenanya, mereka menganjurkan umat Islam mempelajari sains modern agar dapat menjaga independensi mereka dan melindungi dari kritisisme kaum orientalis dan sejumlah intelektual Muslim [yang sekuler]. Baca entri selengkapnya »





Sinergi Iman, Ilmu dan Amal: Potret Kehidupan Syahid Muthahhari

14 07 2008

Al-Syahid Ayatullah Murtadha Muthahhari, lahir pada tanggal 2Februari 1920/1338 Hijriyah Qamariyah di Fariman, dekat Mashad, pusat belajar dan ziarah kaum Muslim Syiah yang besar di Iran Timur. Ayahnya, Muhammad Husein Muthahhari, adalah ulama cukup terkemuka.

Pada usia 12 tahun, Muthahhari mulai belajar agama secara formal di mashad, yang kemudian menumbuhkan kecintaannya kepada filsafat, teologi dan tasawuf (irfan). Mirza Mahdi Syahidi Razavi adalah seorang guru filsafat yang mendapat curahan perhatian Muthahhari. Setahun setelah wafat gurunya pada tahun 1936, Muthahhari pindah ke Qum. Di sana, ia belajar dari Ayatullah Sayyid Muhammad Damad, Sayyid Muhammad Riza Gulpaygani, Haji Sayyid Sadr Al-Din Shadr dan Ayatullah Burujerdi. Perhatian besar dan hubungan dekat mencirikan hubungan Muthahhari dengan guru utamanya qum, Imam Ruhullah Khomenei. Baca entri selengkapnya »





Syahid Muthahhari dalam Pandangan Ayatullah Khamenei

25 06 2008

Syahid Murtadha Muthahhari adalah cendekiawan Islam yang cemerlang, yang pemikiran-pemikirannya terus relevan dengan masa kini. Ia dilahirkan pada tanggal 2 Februari 1919 di Khurasan, Iran. Ayahnya, Muhammad Husain Muthahhari adalah seorang ulama yang terhormat. Awalnya Syahid Muthahhari menuntut ilmu agama di hauzah ilmiah di kota Qom dan menjadi murid dari Ayatullah Burujerdi dan Ayatullah Al-Imam Khomeini. Sejak masih pelajar di Qom, ia sudah menunjukkan minatnya pada filsafat dan ilmu pengetahuan modern. Pada usia relatif muda, Muthahhari sudah mengajar logika, filsafat, dan fiqih di Fakultas Teologi Universitas Teheran. Kepada mahasiswanya, Mutahari mengajarkan pemahaman Islam yang benar dan konsekuensi ketauhidan, yaitu penentangan terhadap thagut atau pemerintah yang zalim. Ia aktif dalam politik dan berjuang bersama Imam Khomeini dalam menentang rezim Shah Pahlevi yang despotik. Pada tahun 1963, Muthahhari dipenjara bersama Imam Khomeini. Setelah Imam Khomeini dibuang ke Turki, ia mengambil alih kepemimpinan gerakan revolusi Islam dan menggerakkan para ulama mujahid untuk meneruskan semanagat perjuangan sang Imam. Pada bulan Februari tahun 1979, perjuangan inipun mencapai hasilnya dengan kemenangan revolusi Islam Iran. Namun beberapa bulan kemudian, tanggal 2 Mei 1979, beliau ditembak oleh kelompok teroris dan gugur syahid.

Dalam rangka mengenang hari gugur syahidnya Ayatullah Muthahhari, kami mengajak Anda untuk mengenal lebih lanjut tentang beliau melalui khutbah-khutbah yang pernah disampaikan oleh Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam, Ayatullah Khamenei sebagai berikut: Baca entri selengkapnya »





MEMBINCANG METODOLOGI AYATULLAH MURTADHA MUTHAHHARI: Sebuah Uraian Pengantar

9 06 2008

Oleh HAIDAR BAGIR

Pengantar
Selama ini banyak orang barangkali mengenal Muthahhari sebagai seorang penulis produktif yang menulis puluhan buku mengenai hampir semua hal. Paling banter orang akan menganggapnya sebagai seorang ulama yang cerdas dan berwawasan luas, termasuk mengenai pemikiran-pemikiran Barat. Tapi, begitu banyak dan bervariasinya tulisan Muthahhari di sisi lain dapat menimbulkan kesan bahwa Muthahhari adalah seorang generalis yang tak memiliki agenda dan perspektif jelas dalam karier pemikirannya. Belakangan ini, pembaca Indonesia mulai dapat menikmati karya-karyanya di bidang filsafat Islam, yang sesungguhnya tidak sedikit dan sama sekali tak kurang penting di banding karya-karya popular dan karier-politiknya sebagai salah seorang pejuang, pendiri, dan peletak dasar Negara Republik Islam Iran. Sesungguhnya kesan seperti ini kurang tepat. Muthahhari adalah seorang ulama-pemikir yang tahu benar tentang apa yang dipikirkan dan diperjuangkannya. Di balik puluhan karyanya itu sesungguhnya terpapar sebuah agenda besar, sebuah tujuan besar. Lebih dari itu, agenda besar itu hendak dicapainya lewat suatu metodologi yang telah dipikirkannya secara masak-masak. Tapi sebelum masuk ke dalam topik utama pembahasan makalah ini perlunya kiranya kita pahami latar-belakang intelektual Muthahhari lewat pendidikan yang dijalaninya.

Biografi Intelektual
Murid terdekat Thabathaba’i dan Khomeini ini yang lahir pada 2 Februari 1920 pertama kali belajar dari ayahnya sendiri, Muhammad Husein Muthahhari, seorang ulama terkemuka di kota-kelahirannya, Baca entri selengkapnya »








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.